Konsep Dasar Asuhan Kebidanan Ibu dalam Masa persalinan

Konsep Dasar Asuhan Kebidanan Ibu dalam Masa persalinan

2.1 Persalinan

  • Persalinan adalah suatu proses fisiologik yang memungkinkan serangkaian perubahan yang besar pada ibu untuk dapat melahirkan janinnya melalui jalan lahir. Ini di definisikan sebagai pembukaan serviks yang progresif, dilatasi atau keduanya, akibat kontraksi rahim teratur yang terjadi sekurang-kurangnya setiap 5 menit dan berlangsung sampai 60 detik.
  • Persalinan adalah suatu proses dimana fetus dan plasenta keluar dari uterus, ditandai dengan peningkatan aktifitas myometrium ( frekuensi dan intensitas kontraksi) yang menyebabkan penipisan dan pembukaan serviks serta keluarnya lendir darah (“show”) dari vagina.

2.2 Sebab-sebab Mulainya Persalinan

Ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya proses persalinan, yakni:

  1. Penurunan fungsi placenta diakhir usia kehamilan menyebabkan kadar estrogen dan progesteron menurun mendadak sehingga nutrisi untuk janin dan placenta berkurang.
  2. Tekanan pada ganglion servikale dari pleksus frankenhauser menjadi stimulasi bagi kontraksi otot polos rahim.
  3. Peningkatan beban/stress pada calon ibu dan janin menyebabkan peningkatan kativasi kortison,prostaglandin dan oksitosin menjadi pencetus rangsangan2 untuk melahirkan.

2.3 Tahapan persalinan

A. Tahap I : mulai dari awal his sampai pembukaan lengkap (sekitar 10 cm)
# Fase awal (fase laten)
– Kontraksi semakin kuat dan teratur
– Rasa nyeri masih bersifat minimal
– Serviks menipis dan membuka sampai sekitar 4 cm
– Fase ini berlangsung selama 8,5 jam (pada kehamilan pertama) dan 5 jam (pada kehamilan selanjutnya)
# Fase aktif
– Serviks membukan sampai 10 cm
– Bagian terendah bayi (biasanya kepala) mulai turun ke dalam panggul ibu
– Ibu mulai merasakan desakan untuk mengedan
– Fase ini berlangsung sekitar 5 jam (pada kehamilan pertama) dan 2 jam (pada kehamilan berikutnya)

B. Tahap II : mulai dari pembukaan lengkap sampai bayi keluar dari rahim ibu.
Berlangsung selama 60 menit (pada kehamilan pertama) dan 15-30 menit (pada kehamilan berikutnya).
C. Tahap III : mulai dari kelahiran bayi sampai pengeluaran plasenta (ari-ari). Biasanya hanya berlangsung selama beberapa menit.

2.4 Tujuan Asuhan Persalinan

Tujuan Asuhan Persalinan Normal (APN)

Mengupayakan kelangsungan hidup dan mencapai derajat kesehatan yang tinggi bagi ibu dan bayinya,melalui berbagai upaya yang terintegrasi dan lengkap serta intervensi minimal sehingga prinsip keamanan dan kualitas pelayanan dapat terjaga pada tingkat yang optimal.Dengan pendekatan seperti ini,berarti bahwa upaya asuhan persalinan normal harus di dukung oleh adanya alas an yang kuat dan berbagai bukti ilmiah yang dapat menunjukan adanya manfaat apabila di aplikasikan pada setiap proses persalinan.

2.5 Tanda-tanda Persalinan

Proses persalinan berbeda-beda pada tiap individu, namun ada beberapa tanda yang dapat membantu ibu untuk memperkirakan kapan waktu persalinan tiba.
Tanda palsu
# Selama kehamilan, ibu akan merasakan kontraksi rahim (mulas, kram perut) yang lemah dan tidak teratur, yang disebut kontraksi Braxton Hicks. Kontraksi tersebut tidak menyebabkan lahirnya bayi.
# Menjelang persalinan akan terjadi kontraksi otot-otot rahim yang menyebabkan bayi lahir, ini disebut His.
# His pada bulan terakhir kehamilan akan terjadi beberapa kali, namun perlu diperhatikan apakah his tersebut merupakan his palsau (his pendahuluan) atau his persalinan.
# Ciri-ciri his palsu adalah :
a. Tidak teratur, tidak menyebabkan nyeri di perut bagian bawah dan lipatan paha.
b. Tidak menyebabkan nyeri memancar dari pinggang ke perut bagian bawah.
c. Lama kontraksi pendek dan tidak begitu kuat, bila dibawa berjalan kontraksi biasanya menghilang.
d. Tidak bertambah kuat seiring dengan bertambahnya waktu.
e. Tidak ada pengaruh pada pembukaan mulut rahim.
Sedangkan tanda mulainya persalinan adalah :

  • Timbulnya kontraksi yang bersifat:
  1. nyeri memancar dari pinggang ke perut bawah
  2. sifatnya teratur dan makin lama makin sering dan kuat
  3. Jika dibawa berjalan makin kuat
  4. mempengaruhi pendataran dan pembukaan mulut rahim
  • Keluarnya lendir berdarah dari jalan lahir karena lepasnya selaput janin dari mulut rahim.
  • Tiba-tiba keluar banyak cairan dari jalan lahir yang terjadi kalau ketuban pecah atau robek karena pembukaan hampir/sudah  lengkap. Ketuban bisa pecah pada pembukaan awal atau sebelum mulainya persalinan. Biasanya persalinan akan berlangsung dalam 24 jam

Ketika mulai terjadi kontraksi, setiap timbul catatlah frekwensinya, kekuatan, lamanya kontraksi tersebut. Gunakan stopwatch atau jam tangan yang ada detiknya.
# Lamanya 45 – 75 detik
# Kekuatan kontraksi : semakin lama akan bertambah kuat. Saat mulas, jika kita menekan dinding perut dengan telunjuk akan terasa perut mengeras.
# Interval kontraksi : akan bertambah sering, permulaan 10 menit sekali, kemudian menjadi 2 menit sekali.
# Pecahnya kantung ketuban
# Keluarnya bercak darah bukan petunjuk akurat ibu akan segera melahirkan. Namun ibu perlu waspada terhadap hal tersebut, jika perdarahan banyak, ibu perlu segera ke rumah sakit tanpa perlu menunggu hingga kontraksi yang terjadi mulai teratur dan bertambah kuat kekuatannya.

2.6  FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERSALINAN

Persalinan dapat berjalan normal (Eutosia) apabila ketiga faktor fisik 3 P dapat bekerja sama dengan baik. Dengan faktor 3 P kemungkinan dapat penyimpangan atau kelainan yang dapat mempengaruhi jalannya persalinan, sehingga memerlukan intervensi persalinan untuk mencapai kelahiran bayi yang baik dan ibu yang sehat, persalinan yang memerlukan bantuan dari luar karena terjadi penyimpangan 3 P disebut Persalinan Distocia.

Faktor-faktor tersebut adalah :

  1. 1. Power / kekuatan his dan mengejan

His :

    • Inertia uteri
    • Tetania uteri
    • His yang tidak terkoordinasi
    • Kelelahan ibu yang sedang mengejan
    • Salah pimpinan kala II

His (kekuatan kontraksi otot rahim)

His normal mempunyai sifat :

    • Kontraksi otot rahim mulai dari salah satu tanduk rahim
    • Fundal dominant, menjalar keseluruh otot rahim
    • Kekuatannya seperti memeras isi rahim
    • Otot rahim yang berkontraksi tidak kembali ke panjang semula sehingga terjadi retraksi dan pembentukan segmen bawah rahim

Kelainan kontraksi otot rahim

  1. Inertia Uteri

His yang sifatnya lemah, pendek dan jarang dari his yang normal yang terbagi menjadi :

Inertia uteri primer : apabila sejak semula kekuatannya sudah lemah

  1. Inertia uteri sekunder :
    • His pernah cukup kuat tapi kemudian melemah
    • Dapat ditegakkan dengan melakukan evaluasi pada pembukaan, bagian terendah terdapat kaput dan mungkin ketuban telah pecah

His yang lemah dapat menimbulkan bahaya terhadap ibu maupun janin sehingga memerlukan konsultasi atau merujuk penderita ke rumah sakit, puskesmas atau ke dokter spesialis.

2. Tetania uteri

His yang terlalu kuat dan terlalu sering, sehingga tidak terdapat kesempatan reaksi otot rahim. Akibat dari tetania uteri dapat terjadi :

  1. Persalinan Presipitatus

Persalinan yang berlangsung dalam waktu tiga jam. Akibat mungkin fatal :

    • Terjadi persalinan tidak pada tempatnya
    • Terjadi trauma janin, karena tidak terdapat persiapan dalam persalinan
    • Trauma jalan lahir ibu yang luas dan menimbulkan perdarahan, inversio uteri
  • Tetania uteri menyebabkan asfiksia intra uterin sampai kematian janin dalam rahim

3. Inkoordinasi otot rahim

Keadaan Inkoordinasi kontraksi otot rahim dapat menyebabkan sulitnya kekuatan otot rahim untuk dapat meningkatkan pembukaan atau pengeluaran janin dari dalam rahim.

Penyebab inkoordinasi kontraksi otot rahim adalah :

  • Faktor usia penderita relatif tua
  • Pimpinan persalinan
  • Karena induksi persalinan dengan oksitosin
  • Rasa takut dan cemas

Power adalah kekuatan his atau kontraksi dan kekuatan mengejan ibu yang sangat penting dalam proses persalinan.

  1. 2. Passage atau  jalan lahir

Jalan lahir : Jalan lahir tulang atau jalan lahir lunak.

Proses persalinan merupakan proses mekanis yang melibatkan tiga faktor yaitu : jalan lahir, kekuatan yang mendorong dan akhirnya janin yang didorong dalam satu mekanis tertentu dan terpadu. Dari ketiga komponen tersebut hanya kekuatan (his dan mengejan) yang dapat dimanipulasi dari luar tanpa membahayakan janin dalam proses persalinan.

Terdiri dari :

  1. Bagian Keras : tulang dan sendi
  2. Bagian lunak : otot, jaringan dan ligamen

Tulang dan Sendi

Tulang panggul terdiri dari :

  1. os coxae (os ilium, os ischium dan os pubis)
  2. os sacrum
  3. os coccygis.

Sedangkan sendi (artikulasio) terdiri dari :

  1. 2 buah artikulasio sacroiliaca : menghubungkan os sacrum dan os ilium
  2. 1 buah artikulasio sacro coccygea : menghubungkan os sacrum dan os coccygis
  3. 1 buah symphisis pubis : menghubungkan 2 tulang symphisis

Bidang/pintu panggul :

  1. Pintu Atas Panggul (PAP) : promontorium, linea inominata dan pinggir atas symphisis. Disebut juga inlet.
  2. Ruang tengah panggul (RTP) : kira – kira pada spina ischiadica. Disebut juga midlet.
  3. Pintu Bawah Panggul (PBP) : symphisis dan arcus pubis. Disebut juga outlet.

Ukuran – ukuran Panggul :
PAP :

  1. Konjugata diagonalis :pinggir bawah symphisis pubis ke promontorium :12,5 cm
  2. Konjugata vera : pinggir atas symphisis pubis ke promontorium : konjugata diagonalis – 1,5 cm = 11 cm
  3. Konjugata transversa : antar dua linea innominata : 12 cm
  4. Konjugata obliqua : 13 cm

RTP :

  1. Bidang luas panggul : pertengahan symphisis ke pertemuan os sacrum 2 dan 3. Sekitar 12,75 x 12,5 cm. Dalam persalinan tidak mengalami kesukaran.
  2. Bidang sempit panggul : tepi bawah symphisis menuju spina ischiadica. Sekitar 11,5 x 11 cm.
  3. Jarak kedua spina 10 – 11 cm.

PBP :

  1. Anterior posterior : pinggir bawah symphisis ke os coccygis : 10 – 11 cm.
  2. Melintang : 10,5 cm.
  3. Arcus pubis : lebih dari 90 derajat

Bidang Hodge

Hodge I : dibentuk pada lingkaran PAP dengan bagian atas symphisis dan promontorium
Hodge II : sejajar dengan Hodge I setinggi pinggir bawah symphisis.
Hodge III : sejajar Hodge I dan II setinggi spina ischiadika kanan dan kiri.
Hodge IV : sejajar Hodge I, II dan III setinggi os coccygis

Jenis – Jenis Panggul

  1. Ginekoid : panggul perempuan, diameter anteroposterior sama dengan diameter transversa
  2. Android : panggul pria, PAP segitiga, diameter transversa dekat dengan sacrum.
  3. Antropoid : PAP lonjong seperti telur, diameter anteroposterior lebih besar daripada diameter transversa.
  4. Platipelloid : diameter transversa lebih besar daripada diameter anteroposterior.

I. Bagian keras yang dibentuk oleh empat buah tulang:
• 2 tulang pangkal paha (os coxae)
• 1 tulang kelangkang (os sacrum)
• 1 tulang tungging (os coccygis)
II. Bagian lunak: diafragma pelvis, dibentuk oleh:
1. Pars muskularis levator ani, yang terdiri dari:
• Muskulus pubococcygeus dari os pubis ke septum anococcygeum
• Muskulus iliococcygeus, dari arkus tendineus muskulus levator ani ke os coccygis dan septum anococcysigeum
• Muskulus ischiococcygeus dari spina ischiadica ke pinggir os sacrum dan os coccygis.
2. Pars membranasea
a. Hiatus urogenitalis
• Terletak antara kedua muskulus pubococcygeus.
• Berbentuk segitiga.
b. Diafragma urogenitalis
• Menutupi hiatus urogenitalis.
• Di bagian depannya ditembus oleh uretra dan vagina.

3. Regio perineum
Merupakan bagian permukaan pintu bawah panggul terbagi menjadi:
a. Bagian anal: (sebelah belakang)
Terdapat muskulus sfingter ani eksternum yang mengelilingi anus dan liang senggama bagian bawah.
b. Regio urogenitalis

Terdapat muskulus ischiokavernosus dan muskulus transversus perinei su¬perfisialis.

III. Panggul kecil (pelvis minor)
Panggul kecil dalam ilmu kebidanan mempunyai arti yang penting karena merupa¬kan tempat alat reproduksi wanita dam membentuk jalan lahir. Jalan lahir berbentuk corong dengan luas bidang yang berbeda-beda sehingga dapat menentukan posisi dan letak bagian terendah janin yang melalui jalan lahir itu.
Ciri-ciri khas jalan lahir adalah sebagai berikut:
1. Terdiri dari empat bidang:
a. Pintu atas panggul
b. Bidang terluas panggul
c. Bidang tersempit panggul d. Pintu bawah panggul
2. Jalan lahir merupakan corong yang melengkung ke depan dengan sifat:
• Jalan lahir depan panjangnya 4,5.cm.
• Jalan lahir belakang panjangnya 12,5 cm.
• Pintu atas panggul menjadi pintu bawah panggul seolah-olah berputar 90°.
• Bidang putar pintu atas panggul menjadi pintu bawah panggul terjadi pada bidang tersempit.
• Pintu bawah panggul bukan merupakan satu bidang, tetapi dua segitiga de¬ngan dasar pada:
Segitiga belakang pangkal (dasar) pada tuber ossis ischii clan ujung bela¬kangnya os sacrum (tulang belakang).
Segitiga depannya dengan ujung (puncak) pada simfisis pubis.

  • Pintu atas panggul (PAP)
    Pintu atas panggul merupakan bulatan oval dengan panjang ke samping clan dibatasi oleh:
    • Promontorium
    • Sayap os sacrum
    • Linia terminalis kanan clan kiri
    • Ramus superior ossis pubis kanan clan kiri
    • Pinggir atas simfisis pubis
    Pada pintu atas panggul (PAP) ditentukan tiga ukuran penting, yaitu ukuran muka belakang (konyugata vera), ukuram lintang (diameter transversa), clan ukuran serong (diameter obliqua).
    • Konyugata vera
    Panjangnya sekitar 11 cm, tidak dapat diukur secara langsung, tetapi ukurannya diperhitungkan melalui pengukuran konyugata diagonalis. Panjang konyugata diagonalis antara promontorium clan tepi bawah simfisis pubis. Konyugata vera (CV): CD-1,5 cm. Konyugata obstetrika: ukuran antara promontorium dengan tonjolan simpisis pubis.
  • Pintu atas panggul dengan distansia transversalis kanan kiri lebih panjang dari pada muka-belakang
  • Mempunyai bidang tersempit pada spina ischiadica
  • Ukuran-ukurannya adalah :

Distancia Cristarum 28 cm

Distancia Spinarum 25 cm

Conjungata Vera 11 cm

Distancia transversum 13 cm

Distancia Oblique 12 cm

  • Pintu atas panggul menjadi pintu bawah panggul, seolah-olah berputar sembilan puluh derajat
  • Pintu bawah panggul terdiri dari dua segitiga dengan dasar yang sama pada tuber ischii, kedepan dengan ujung symphisis pubis, kebelakang ujung sacrum
  • Jalan lahir depan panjang 4,5 cm sedangkan jalan lahirnya kebelakang panjangnya 12,5 cm
  • Secara keseluruhan jalan lahir merupakan corong yang melengkung kedepan mempunyai bidang sempit pada spina ischiadika, terjadi perubahan pintu atas panggul lebar kanan kiri menjadi pintu bawah panggul dengan lebar kedepan dan kebelakang yang terdiri dari dua segitiga.

2.a Ukuran panggul
Ukuran panggul penting diketahui terutama pada kehamilan pertama, sehingga ra¬malan terhadap jalannya persalinan dapat ditentukan. Ukuran panggul luar tidak ba¬nyak artinya, untuk kepentingan ramalan persalinan, clan ditetapkan melalui peme¬riksaan:
• Secara klinis dilakukan dengan pemeriksaan dalam
• Rontgen abdomen dan pelvis
• Ultrasonografi.
Pemeriksaan foto rontgen panggul sudah lama ditinggalkan karma dapat mem¬bahayakan janin sehingga pemeriksaan dalam menjadi lebih penting untuk menen¬tukan persalinan.
Ukuran panggul secara klinis:
1. Ukuran pintu atas panggul
Ukuran pintu alas panggul yang utama adalah konyugata vera, yang dapat diukur secara tidak langsung. Dengan pemeriksaan dalam, dapat diukur panjang konyugata diagonalis sehingga konyugata vera = CD – 1,5 cm. Pada panggul nor¬mal promontorium tidak teraba. Bila ukuran CV di alas 10 cm dianggap panggul dalam Batas normal.
2. Ukuran panggul tengah
Ditentukan dengan mengukur distansia interspinarum.
3. Ukuran pintu bawah panggul
Ditentukan dengan mengukur jarak tuber ossis iskium dari luar.

Dengan demikian jalan lahir tulang sangat menentukan proses persalinan apakah dapat berlangsung melalui jalan biasa atau melalui tindakan operasi dengan kekuatan dari luar. Yang perlu mendapat perhatian bidan didaerah pedesaan adalah kemungkinan ketidakseimbangan antara kepala dan jalan lahir dalam bentuk disproporsi sefalo pelvic.

Jalan lahir yang dimaksud adalah jalan lahir tulang dan jalan lahir lunak

yang dapat mempengaruhi jalannya persalinan.

2.b Otot dasar panggul

Otot dasar panggul terdiri dari diagfragma pelvis dan diagfragma urogenital. Diagfragma pelvis adalah otot dasar panggul bagian dalam yang terdiri dari otot levator ani, otot pubokoksigeus, iliokoksigeus, dan ischiokoksigeus. Sedangkan diafragma urogenetik dibentuk oleh aponeurosis otot transverses perinea profunda dan mabdor spincter ani eksternus. Fungsi dari otot-otot tersebut adalah levator ani untuk menahan rectum dan vagina turun ke bawah, otot spincter ani eksternus diperkuat oleh otot mabdor ani untuk menutup anus dan otot pubokavernosus untuk mengecilkan introitus vagina.

Otot – otot Dasar Panggul

Ligamen – Ligamen Penyangga Uterus

  1. Ligamentum Kardinale sinistrum dan dekstrum (Mackendrot) : Ligamen terpenting untuk mencegah uterus tidak turun. Jaringan ikat tebal serviks dan puncak vagina kearah lateral dinding pelvis.
  2. Ligamentum Sacro – uterina sinistrum dan dekstrum : Menahan uterus tidak banyak bergerak Melengkung dari bagian belakang serviks kiri dan kananmelalui dinding rektum kearah os sacrum kiri dan kanan.
  3. Ligamentum Rotundum sinistrum dan dekstrum (Round Ligament) : Ligamen yang menahan uterus dalam posisi antefleksi. Sudut fundus uterus kiri dan kanan ke inguinal kiri dan kanan.
  4. Ligamentum Latum sinistrum dan dekstrum (Broad Ligament) : Dari uterus kearah lateral.
  5. Ligamentum infundibulo pelvikum : Menahan tubafallopi. Dari infundibulum ke dinding pelvis.
  1. 3. Passanger (janin dan placenta)

3. a Janin

Selama janin dan placenta berada dalam rahim belum tentu pertumbuhannya normal, adanya kelainan genetik dan kebiasaan ibu yang buruk dapat menjadikan pertumbuhannya tidak normal antara lain :

  • Kelainan bentuk dan besar janin : anensefalus, hidrosefalus, janin makrosomia
  • Kelainan pada letak kepala : presentasi puncak, presentasi muka, presentasi dahi dan kelainan oksiput
  • Kelainan letak janin : letak sungsang, letak lintang, letak mengolak, presentasi rangkap ( kepala tangan, kepala kaki, kepala tali pusat )

Kepala janin (bayi) merupakan bagian penting dalam proses persalinan dan memiliki ciri sebagai berikut :

  • Bentuk kepala oval, sehingga setelah bagian besarnya lahir, maka bagian lainnya lebih mudah lahir
  • Persendian kepala terbentuk kogel, sehingga dapat digerakkan ke segala arah dan memberikan kemungkinan untuk melakukan putaran paksi dalam
  • Letak persendian kepala sedikit kebelakang, sehingga kepala melakukan fleksi untuk putaran paksi dalam

Setelah persalinan kepala, badan janin tidak akan mengalami kesulitan. Pada beberapa kasus dengan anak yang besar pada ibu dengan diabetes mellitus, terjadi kemungkinan kegagalan persalinan bahu. Persalinan bahu yang berat cukup berbahaya karena dapat terjadi asfiksia. Persendian leher yang masih lemah dapat merusak pusat-pusat vital janin yang berakibat fatal

Pada letak sungsang dengan mekanisme persalinan kepala dapat mengalami kesulitan karena persalinan kepala terbatas dengan waktu sekitar 8 menit dan tulang dasar kepala tidak mempunyai mekanisme moulase, yang dapat memperkecil volume tanpa merusak jaringan otak. Dengan demikian persalinan kepala dalam letak sungsang atau versi ekstraksi letak lintang harus dipertimbangkan agar tidak menimbulkan morbiditas yang lebih tinggi. Berbagai posisi kepala janin dalam kondisi defleksi dengan lingkaran yang melalui jalan lahir bertambah panjang sehingga menimbulkan persoalan baru. Kedudukan rangkap yang paling berbahaya adalah antara kepala dan tali pusat, sehingga makin turun kepala makin terjepit tali pusat, menyebabkan asfiksia sampai kematian janin dalam rahim.

Kelainan dari janin dan placenta yang bisa mempengaruhi proses persalinan adalah kelainan bentuk dan besar janin, kelainan pada letak kepala, kelainan letak janin.

Kelainan Bentuk dan Bobot Plasenta.
Bentuk plasenta yang normal ialah ceper dan bulat, dengan diameter 15 – 20 cm dan tebal 1,5 — 3 cm, berat kurang lebih 500 gram. Kadang-kadang ditemukan plasenta yang kecil pada wanita dengan tekanan darah diastolik 100 mm Hg seperti pada preeklampsia berat.

Plasenta yang besar dan berat ditemukan pada erythroblastosis foetalis dan sifilis sehingga perbandingan dengan bayi jadi 1 : 3. Di samping bentuk yang normal kita dapat menemukan berbagai variasi, misalnya plasenta terdiri dari dua bagian yang dipisahkan oleh selaput ketuban dan disebut plasenta bipartita, bilobata atau plasenta dupleks. Bila di samping plasenta yang besar ditemukan pula plasenta kecil disebut plasenta suksenturiata. Antara keduanya dihubungkan dengan pembuluh-pembuluh darah. Plasenta tambahan ini mungkin dapat tertinggal pada pelepasan plasenta dan menyebabkan perdarahan. Kita dapat menyangka adanya plasenta suksenturiata dengan memeriksa selaput janin. Bila terdapat lubang pada selaput janin dekat plasenta dan pada pinggir lubang tersebut ditemukan pembuluh-pembuluh darah yang terkoyak kita harus curiga akan adanya plasenta tambahan. Bila antara kedua plasenta tidak ditemukan pembuluh darah disebut plasenta spuria. Kelainan bentuk lain ialah plasenta membranasea, di mana plasenta itu tipis dan lebar, kadang-kadang menutupi seluruh ruangan kavum uteri.

Plasenta membranasea dapat menyebabkan perdarahan antepartum dan member kesulitan pada kala III karena plasenta itu tipis dan sukar terlepas. Plasenta sirkumualata adalah plasenta yang pada permukaan fetalis dekat pinggir terdapat cincin putih. Cincin ini menandakan pinggir plasenta, sedangkan jaringan di sebelah luarnya terdiri dari villi yang tumbuh ke samping di bawah desidua. Jadi bukan villus pancang. Diduga bahwa chorion frondosum terlalu kecil dan untuk mencukupi kebutuhan, villi menyerbu ke dalam desidua di luar permukaan frondosuin, plasenta jenis ini tidak jarang terjadi. Insidensinya lebih kurang 2 – 18%. Beberapa ahli mengatakan bahwa plasenta sirkumvalata sering menyebabkan abortus dan solutio plasenta. Bila cincin putih ini letaknya dekat sekali ke pinggir plasenta, disebut plasenta marginata. Kedua-duanya disebut sebagai plasenta ekstrakorial. Pada plasenta marginata mungkin terjadi adeksi dari selaput sehingga plasenta lahir telanjang. Tertinggalnya selaput ini dapat menyebabkan perdarahan dan infeksi. Diagnosis plasenta sirkumvalata baru dapat ditegakkan setelah plasenta lahir, tetapi dapat diduga bila ada perdarahan intermiten atau hidrorea.

Kelainan implantasi

Plasenta biasanya melekat pada dinding belakang atau depan rahim dekat fundus. / Jonjot-jonjot menyerbu ke dalam dinding rahim hanya sampai lapisan atas dari stratum spongiosum. Kalau implantasinya rendah, yaitu di segmen bawah rahim dan menutup sebagian atau seluruh ostium internum maka disebut sebagai plasenta previa (prae=depan, vias=jalan), jadi artinya di depan jalan lahir atau menutup jalan lahir. Kalau jonjot-jonjot tersebut menyerbu ke dalam dinding rahim lebih dari batas, maka disebut plasenta ukreta. Menurut dalamnya penetrasi dinding rahim, plasenta akreta dibagi dalam: Plasenta akreta, jonjot menembus desidua sampai berhubungan dengan miometnum; Plasenta inkreta, jonjot sampai ke dalam lapisan miometrium; flasenta perkreta, jonjot-jonjot menembus miometrium sehingga mencapai perimetrium. Plasenta akreta ada yang komplit di mana seluruh permukaan plasenta melekat dengan erat kepada dinding rahim dan ada juga yang persial, di mana perlekatan hanya terjadi di beberapa tempat saja.

Plasenta akreta dapat menimbulkan penyulit pada kala III, karena sukar dilepaskan dan waktu melakukan tindakan pelepasan secara manual harus hati-hati, karena dapat. menyebabkan perforasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: