contoh informed choise

Contoh Inform Consent:
SURAT PERSETUJUAN/PENOLAKAN MEDIS KHUSUS

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : (L/P)
Umur/Tgl Lahir :
Alamat :
Telp :

Menyatakan dengan sesungguhnya dari saya sendiri/*sebagai orang tua/*suami/*istri/*anak/*wali dari :
Nama : (L/P)
Umur/Tgl Lahir

Dengan ini menyatakan SETUJU/MENOLAK untuk dilakukan Tindakan Medis berupa…………………………………………………………………………….
Dari penjelasan yang diberikan, telah saya mengerti segala hal yang berhubungan dengan penyakit tersebut, serta tindakan medis yang akan dilakukan dan kemungkinana pasca tindakan yang dapat terjadi sesuai penjelasan yang diberikan.
Jakarta,………………….20……
Dokter/Pelaksana, Yang membuat pernyataan,

Ttd ttd

(……………………) (…………………………..)
*Coret yang tidak perlu
INFORMED CONSENT
Informasi dalam lingkup medis, ternyata sangat penting. Meski tidak semua pasien menghendaki penjelasan yang sejelas-jelasnya, akurat dan lengkap tahap demi tahap perawatan, tapi langkah penjelasan untuk era saat ini justru diharuskan.
Bagi pasien yang menolak penjelasan bisa diminta untuk menandatangani surat penolakan penjelasan perawatan, namun dokter atau dokter gigi tetap memberi kesempatan bila suatu saat pasien berubah pendapat.
Kenapa hal ini begitu penting? Sebab tidak semua kejadian dalam pengobatan berlangsung exactly just the way we want to. Dunia kedokteran tidak 2+2=4. Tidak ada kepastian dan garansi dalam dunia kedokteran karena setiap kasus bagaikan teori permutasi kombinasi. Latar belakang setiap orang berbeda, latar belakang kesehatan berbeda, derajat pengobatan yang diberikan berbeda, reaksi tubuh terhadap sesuatu berbeda.
Jadi manalah mungkin seorang dokter dan dokter gigi yang juga manusia dapat memenuhi dengan sempurna seluruh kriteria kasus yang ada, sedangkan setiap orang sudah pasti having their own limit.
Oleh karena itu selain untuk menjaga kemungkinan ‘terlantar’nya pasien oleh dokter atau dokter gigi yang mempunyai pasien banyak, atau ‘terlantar’nya dokter atau dokter gigi karena harus menghadapi tuntutan hanya karena tidak mengkomunikasikan kemungkinan penyakit maka dibuatlah suatu surat perjanjian hitam di atas putih. Ini yang disebut sebagai inform consent.
Seperti apakah surat inform consent itu?
Intinya inform consent merupakan surat yang menyatakan bahwa pasien diberitahu perihal penyakit yang dideritanya, kerugian maupun keuntungan dari alternatif perawatan dan pengobatan yang akan diberikan, penjelasan mengenai biaya yang harus dibayar dan pilihan-pilihan lain yang memungkinkan untuk mengatasi penyakitnya.
Jadi pada dasarnya semua pasien berhak mendapatkan penjelasan sejelas-jelasnya dari dokter dan dokter gigi yang merawat, langsung dari dokternya atau dari brosur yang dokter dan dokter gigi berikan. Pertanyaan bisa diajukan untuk melengkapi hal-hal yang belum jelas, atau bisa diberi penjelasan tambahan oleh asisten atau perawat dokter dan dokter gigi.
Perawatan apa saja yang butuh inform consent?
Semua perawatan yang membutuhkan tindakan, bisa dimintakan inform consent. Contohnya dalam kedokteran gigi Perawatan Saluran Akar atau Pencabutan Gigi. Dalam perawatan gigi anak, yang menandatangani surat persetujuan adalah orang tua atau wali.

Informed Consent
Informed consent adalah :
Bukti tertulis tentang persetujuan terhadap prosedur klinik suatu metode kontrasepsi yang akan dilakukan pada klien.
Harus ditandatangani oleh klien sendiri atau walinya apabila akibat kondisi tertentu klien tidak dapat melakukan hal tersebut.
Persetujuan diminta apabila prosedur klinik mengandung risiko terhadap keselamatan klien (baik yang terduga atau tak terduga sebelumnya).
Persetujuan tindakan medik (Informed Consent) berisi tentang kebutuhan reproduksi klien, informed choice, dan prosedur klinik yang akan dilakukan; ada penjelasan tentang risiko dalam melakukan prosedur klinik tersebut; standar prosedur yang akan dilakukan dan upaya untuk menghindarkan risiko; klien menyatakan mengerti tentang semua informasi tersebut diatas dan secara sadar memberikan persetujuannya.
Informed consent juga dilakukan pada pasangannya dengan alasan sebagai berikut :
Aspek hukum, hanya saksi yang mengetahui bahwa pasangannya secara sadar telah memberikan persetujuan terhadap tindakan medik.
Suami tidak dapat menggantikan posisi istrinya untuk memberikan persetujuan (atau sebaliknya) kecuali pada kondisi khusus / tertentu.
Secara kultural (Indonesia) suami selalu menjadi penentu dalam memberikan persetujuan tetapi secara hukum, hal tersebut hanya merupakan persetujuan terhadap konsekuensi biaya dan pemahaman risiko (yang telah dijelaskan sebelumnya) yang mungkin timbul dari prosedur klinik yang akan dilakukan.
a. Informed choise sebagai pencegahan konflik etik
Dalam pencegahan konflik etik dikenal ada empat butir yang urutannya adalah sebagai bertikut :
1 Informed consent
Disini informed consen merupakan suatu dialok antara bidan dengan pasien yang didasari keterbukaan dan pikiran dengan suatu penandatanganan formulir.
2 Negoisasi
Berlangsungnya tawar menawar dengan jalan berunding untuk menbangun atau menerima guna mencapai kesepakatan bersama antara satu pihak atau lebih. Dalam pihak ini kesepakatan yang ingin dicapai adalah antara bidan dengan klien atau walinya.
3 Persuasi
Ajakan yang diberikan bidan kepada seorang klien dengan cara memberikan alasan yang meyakinkan klien tersebut.
4 Komite etik
Sekelompok orang yang diberikan tugas tertentu. Segala keputusan yang diawali tidak bisa hanya oleh satu individuan saja tetapi harus berdasarkan organisasi yang dia miliki. Misalnya bidan mempunyai suatu organisasi yaitu IBI. Informed choise merupakan butir yang paling penting kalau informed consent gagal maka butir selanjutnya baru dipergunakan secara berurutan sesuai dengan kebutuhan.
b. Dimensi Informed consent
Dalam proses informed consent terdapat dua dimensi yang tercakup didalamnya, yaitu:
1 Dimensi yang menyangkut hukum
Dalam hal ini inforcement consent merupakan perlindungan bagi ps terhadap bidan yang berprilaki memaksakan kehendak. Proses informed choise sudah memuat:
a. Keterbukaan informasi dari bidan terhadap pasien
b. Informasi tersebut harus dimengerti pasien
c. Memberikan kesempatan kepada pasien untum memberikan kesempatan yang terbaik
2 Dimensi yang menyangkut etik.
Dari proses informed consent terkandung nilai – nilai etik sebagai berikut:
a. Menghargai kemandirian / ototnomi pasien
b. Tidak melakukan intervensi melainkan membantu pasien bila dibutuhkan atau diminati sesuai dari informasi yang telah diberikan
c. Bidan menggali keingginan pasien baik yang dirasakan secara subjektif maupun sebagai hasil pemikiran yang rasional.

INFORMED CHOICE

• Pengertian
Informed choice berarti membuat pilihan setelah mendapatkan penjelasan tentang alternatif asuhan yang akan dialaminya. Pilihan (choice) dari persetujuan (consen) perrsetujuan penting dari sudut pandang Bidan, karena itu berhubungan dengan aspek hukum yang memberikan otoritas untuk semua prosedure yang akan diberikan oleh Bidan. Sedangkan pilihan (choice) lebih penting dari sudut pandang wanita ( sebagai konsumen penerima jasa asuhan kebidanan ) yang memberikan pemahaman masalah yang sesungguhnya ini adalah aspek etika dalam hubungan dengan otonomi pribadi berarti menentukan sendiri
Hak dan keinginan wanita harus dihormati. Tujuanya adalah untuk mendorong wanita memilih asuhanya. Peran bidan tidak hanya membuat keputusan dalam manajemen asuhan kebidanan tetapi juga menjamin bahwa hak wanita untuk memilih asuhanya dan keinginan terpenuhi. Ini sesuai dengan Kode Etik Internasional Bidan yang dinyatakan oleh ICM 1993 “Bidan harus menghormati hak wanita setelah mendapatkan penjelasan dan mendorong wanita untuk menerima tanggungjawab untuk hasil dari pilihanya”.
Informed (mendapatkan penjelasan) disini maksudnya “informasi yang lengkapsudah diberikan dan dimengerti oleh wanita itu menyangkut risiko, manfaat, keuntungan, hasil yang mungkin dapat diharapkan dari setiap pilihanya”.
Choice (pilihan) berarti ada alternatif lain, dan dari satu pilihan dan wanita itu mengeri perbedaannya, sehingga dia dapat menentukan mana yang disukai atau sesuai da kebutuhannya. Dari riwayat yang sudah lama belangsung, petugas kesehatan termasuk bidan sungkan untuk membagikan informasi maupun
membuat keputusan bersama klien. Ini bertentangan dengan aspek hukum dan untuk sikap profesionalisme yang wajib dan bersusah payah untuk menjelaskan kepada klien semua kemungkinan pilihan tindakan dan hasil yang diharapkan dari setiap pilihan.
Dinegara manapun ada hambatan dalam memberdayakan wanita mengenai pelaksanaan informed choice ini, misalnya sangat kurang informasi yang diperoleh ketika wanita mulai hamil dan ada prasangka bahwa wanita sendiri enggan mengambil tanggung jawab untuk membuat keputusan yang sulit dalam kehamilan maupun persalinan. Dari hasil penelitian yang prnah dilakukan menunjukkan bahwa wanita ingin membuat pilihan atau informasi yang lengkap agar wanita dapat membuat keputusan, tetapi untuk sebagian besar masih sulit karena berbagai alasan, misalnya alasan sosial ekonomi, kurangnya pendidikan dan masalah kesetan, kesulitan bahasa dan pemahaman sistem kesehatan yang tersedia.
• Rekomendasi
1. Bidan harus terus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam berbagai aspek kehidupan dapat membuat klinis secara teoritis agar dapat memberikan pelayanan yang aman dan memuaskan kliennya.
2. Bidan wajib memberikan informasi secara rinci dan jujur dalam bentuk dapat oleh siwanita dengan menggunakan media altematif dan penterjemah kalau perlu, begitu juga tatap muka langsung.
3. Bidan dan petugas ks lain perlu belajar untuk membantu wanita melatih diri dalam menggunakan haknya dan menerima tanggung jawab untuk keputusan yang mereka ambil sendiri. Ini tidak hanya dapat diterima secara etika tetapi juga melegakan para persona; kesehatan. Memberikan jaminan bahwa wanita itu sudah diberikan informasi yang lengkap tentang implikasi dari keputusan mereka telah memenuhi tanggung jawab moral mereka
4. Dengam memfokuskan asuhan yang berpusat pada wanita dan berdasarkan fakta, diharapkan bahwa konflik dapat ditekan serendah mungkin kompetensinya dalan memberikan pelayanan yang aman. Apabila ada pertentangan maka pertimbangan keamanan bagi ibu, janin dan sipenolong haras rnenjadi prioritas, dan diadakan negoisasi secara terbuka.
5. Tidak perlu takut akan konflik tetapi menganggapnya sebagai suatu kesempatan untuk saling memberi dan mungkin suatu penilaian ulang yang objektif, bermitrapda wanita dan sistem asuhan dan suatu tekanan positif terhadap perubahan
• Bentuk asuhan yang ada dalam asuhan kebidanan
Ada beberapa jenis pelayanan kebidanan yang dapat dipilih oleh oasien, antara lain:
1 Gaya bentuk pemeriksaan antenatal dan pemeriksaan laboratorium / screenting antenatal
2 Tempat melahirkan (rumah, polindes, RB, RSB, atau RS), dan kelas perawatan di RS.
3 Masuk kamar bersalin pada tahap awal persalinan
4 Pendampingan waktu melahirkan
5 Klisma dan cukur daerah pubis
6 metode monitor denyut jantung janin.
7 Percepatan persalinan/augmentasi
8 Diet selama proses persalinan
9 Mobilisasi selama proses persalinan
10 Pemakaian obat penghilang sakit
11 Pemecahan ketuban secara rutin
12 Posisi ketika melahirkan
13 Episiotomi
14 Penolong persalinan
15 keterlibatan suami waktu bersalin/kelahiran, misalnya pemotongan tali pusat.
16 Cara memberikan minuman bayi
17 Metode pengontrolan kesuburan
Semua di tentukan bidan atas nama atau dengan alasan demi kepentingan pasien. Dalam memberikan pelayanan kebidanan, Bidan harus mengukur

TETANUS NEONATORUM

Definisi

Penyakit tetanusneonatorum adalah penyakit yang terjadi pada bayi neonates(bayi berusia kurang dari 1 bulan) yang di sebabkan oleh clostridium tetani.

Anatomi dan Fisiologi Payudara

BAB II

PEMBAHASAN

2.1.Anatomi dan Fisiologi Payudara
a. Anatomi Payudara
Payudara (buah dada) atau kelenjar mammae adalah salah satu organ reproduksi pada wanita dan mengeluarkan air susu. Payudara berfungsi memproduksi ASI terdiri dari lobules-lobulus yaitu kelenjar yang menghasilkan ASI, tubulus atau duktus yang menghantarkan ASI dari kelenjar sampai pada puting susu (nipple). Kelenjar mammae merupakan cirri pembeda pada semua mamlia. Payudara manusia berbentuk kerucut tapi sering berukuran tidak sama.
Payudara terletak pada hermithoraks kanan dan kiri dengan batas-bata yang tampak dari sebagai berikut:
– Superior : iga II atau III
– Inferior: iga VI atau VII
– Medial: pinggir sternum
– Lateral: garis aksillars anterior
Kulit puting susu berpigmen banyak yang tidak berambut. Papilla dermis mengandug banyak kelenjar sabasea. Kulit areola juga berpigmen banyak tetapi berbeda dengan kulit puting susu, ia kadang-kadan mengandung folikel rambut. Kelenjar sebaseanya biasanya terlihat sebagai nodulus kecil pada permukaan areola dan disebut kelenjar Montgomery.
Payudara dibagi menjadi empat kuadran. Dua gari khayalan ditarik melalui puting susu, masing-masing saling tegak luru. Jika payudara dibayangkan sebgai piring sebug jam, satu gari menghubungkan “jam 12 dengan jam 6” dan garis lainnya menghubungkan “ jam 3 dengan jam 9”. Empat kuadra yang dihasilkannya adalah kuadran atas luar (supero lateral)atas adalam (supero medial), bawah luar (infero lateral), dan bawah dalam (infro medial). Ekor payudara merupakan perluasan kuadran atas luar (supero lateral). Ekor payudara memanjang sampai ke aksilla dan cenderung lebih tebal ketimbang payudara lainnya. Kuadran luar atas ini mengandung masa jaringan kelenjar mammae yang lebih banyak atau langsung di belakang areola dan sering menajdi tempat neoplasia. Pada kuadran media atas da lateral bawah, jaringa kelenjar lebih sedikit jumlahnya, dan paling minimal adalah yang dikuadran medial bawah. Jaringan kelenjar payudara tambahan dapat terjadi disepanjang garis susu yang membentang dari lipatan garis aksillaris anterior, menurun hingga lipatan paha.
Payudara normal mengandung jaringan kelenjar, duktus, jaringan otot penyokong lemak, pembuluh darah, saraf dan pembuluh limfe.
Jaringan kelenjar, duktus dan jaringan penyokong
Jaringan kelenjar terdiri dari 15-25 lobus yang tersebar radier mengelilingi puting. Tiap-tiap segmen mempunyai satu aliran yang akan berdilatasi, sesamspainya di belakang areola. Pada retro areola. Pada retro areolar ini , duktus yang berdilatasi itu mejadi lembut kecual ibu selama masa menyusui, ia akan mengalami distensi. Masing-masiang duktus ini tak berisi, dan mempunyai satu bukaan kea rah puting (duktus eksretorius). Tiap lobus dibagi menjadi 50-57 lobulus, yang bermuara ke dalam suatu duktus yang mengalirkan isinya ke dalam duktus aksretorius labus itu. Setiap loblus atas sekelompok alveolus yang bermuar ake adalam laktiferus (saluran airu susu) yang bergabung dengan duktus-duktus linnya untuk membentuk saluran yang lebih besr dan berakhir dalam saluran sekretorik. Ketika saluran-saluran ini mendekati puting, membesar untuk wasah penampungan air susu (yang disebut sinus laktiferus) kemudia salura-saluran itu tersebut menyempit lagi dan menembus puting dan bermuara di atas permukaannya.
Di antara kelenjar susu dan fasia pektrolis, juga di antara kulit dan kelenjar tersebut mungkin terdapat jaringan lemak. Di antara lobules tersebut ada jaringan ikat yang disebut ligmentum cooper yang merupakan tonjolan jaringan payudara yang bersatu dengan lapisan luar fasia superfisialis yang berfugsi sebagai struktur penyokong dan memberi rangka untuk payudara.
Pembuluh darah / vaskularisasi payudara
1. Arteri
Payudara mendapat pendarahan dari:
a. Cabang-cabang perforantesa mammaria interna. Cabang-cabang I,II,II,IV,V dari a. mammaria interna menembus didinding dada dekat pinggir sternum pada interkostal yang sesuai, menembus m. pektoralis mayor dan meberi pendarahan tepi medial glandulla mamma.
b. Rami pektoralis a. thorako-akromialis
Arteri ini berjalan turun di antaara m. pektoralis minor dan m. pektoralis mayor. Pembuluh ini merupakan pembuluh utama m. pektoralis mayor, arteri ini akan mendarahi glandula mamma bgagian dalam (deep surface)
c. A. thorakalis lateralis (a. mammae eksternal)
Pembuluh darah ini berjalan turun menyusuri tepi laterl minggu pektoralis mayor untuk mendarahi bagian lateral payudara.
d. . thorako-dorsalis
Pembuluh darah ini merupakan cabanga dari a. subskapularis. Arteri ni mendarahi m. latissmus dorsi dan minggu serratus magnus. Walaupun arteri ini tidak memberikan pendarahan pada glandula mamma, tetapi sangat penting artinya, karena pada tindakan radikal masterktomi, pendarahan yang terjadi akibat putusnya arteri ini sulit dikontrol, sehingga daerah ini dinamakan “ the bloody angel”.
2. Vena
pada daerah payudara terdapat tiga grup vena:
a. Cabang-cabang perforantges v. mammaria interna
Vena ini merupakan vena tersebar yang mengalirkan darah dari payudara vna ini bermuara pada v. Mammaria interna yang kemudian bermuara pada v. mnominata.
b. Cabang-cabang v. aksillaris yang terdiri dari v.thorako-akromialis.b.thoraklais lateralis dan v. thorako-dorsalis.
c. Vena-vena kecil bermuara pada v. interkostalis
Vena interkostalis bermuara pada v. Vertebralis, kemudia bermuara pada . Azygos (melalui vena-vena metastase dapat langsung terjadi di paru).
Sistem limfatik pada payudara
a. Pembuluh getah bening
– Pembuluh getah bening aksilla:
Pembuluh getah bing aksilla ini mengalirkan getah bening dari daerah-daerah sekitar areola mamma, kuadaran lateral bawah dan kuadaran lateral atas payudara
– Pembuluh getah bening mammar interna:
Saluran limfe ini mengalirkan getah bening dari bagian dalam dan medial payudara. Pembuluh ini berjalan di atas fasia pektorlai s lalu menembus fasia tersebut sistem pertorntes menembus m. pektrolis mayor. Lalu jalan ke medal bersama-sama dengan sisitem pertorntes menembus m./ interkostalis dan bermuara ke dalam kelenjar getah benin mamari interna. Dari kelenjar mammary interna, getah bening menglilr melalui trunkus limfatikus mamaria interna. Sebagian akan bermuara pada v. kava, sebagian akan bermuara ke duktus thorasikus (untuk sisi kiri) dan duktus limfatikus deksrta( untuk sisi kanan)
Pembuluh getah bening di daerah tepi medial kuadran medial bawah payudara. Pembuluh ini berjalan bersama-sama vasa epigastrika superior, menembus fasia rektus dan masuk ke dalam kelenjar getah bening preperikadial anterior yang terletak di tepi atas diafragma di atas ligmentum falsiform. Kelenjar getah bening ini juga menampung getah being dari diafragma, ligamentum falsiforme dan bagian antero superior hepar. Dari kelenjar ini, limfe mengalir melalui trunkus limfatikus mammaria interna.
b. Kelenjar-kelenjar getah bening
Kelenjar getah bening aksilla
Terdapat enam grup kelenjar getah bening aksilla:
Kelenjar geth bening mammae eksterna. Untaian kelenjar ini terletak di bawah tepi lateral m. pektoralis mayor, sepanjang tepi medial aksilla. Grup ini dibagi dalam 2 kelompok:
– Kelompok superior, terletak setinggi ingerkostal II-III
– Kelompok inferior, terletak setinggi interkostal IV-V-VI
Kelenjar getah bening scapula. Terletak sepajang c asa subskapularis dan thoralodoralis, mulai dari percabangan v. aksillaris mejadi v. subskapularis, sampai ke tempat masuknya v.thorako-dorsalis ke dalam m. latissimus dorsi.
Kelenjar getah bening sentral (central nodes). Terletak di dalam jaringa lemak di pusat aksila. Kadang-kadang beberapa di antaranya terletak sangat superficial, di bawah kulit dan fasia pada pusat aksila, kira-kria pada pertengahan lipat aksila depan dan belakang. Kelenjar getah bening ini adalah kelenjar getah bening yang paling mudah diraba dan merupakan kelenjar aksilla yang terbesa dan terbanyak jumlahnaya.
Kelenjar getah bening interpektoral (rotters nodes). Terletak antara m. pektoralis mayor dan minor, sepanjang rami pektoralis v. thorako-akromialis. Jumlahnya satu sampai empat.
Kelenjar getah v. aksillaris. Kelenjar-kelenjar ini terletak sepanjang v.aksillaris bagian lateral, mulai dari white tendon m. laitssimus dorsi sampi ke sedikit medial dari percabangan v. aksillaris-v.thorako akromialis.
Kelenjar getah bening subklavikula. Terletak sepenjnag c.aksillaris, mulai dari sedikit medial percabangan v.aksillaris-v.thorako-aktomialis sampai dimana v. aksillaris menghilang di bawah tendo m.subklavius. kelenjar ini merupakan kelenjar aksilla yang tertinggi dan termedial letakya. Semua getah bening yang berasal dari kelenjar-kelenjar getah bening aksilla masuk ke dalam kelenjar ini. Seluruh kelenjar getah bening aksilla ini terletak di bawah fasia kostokorakoid.
Kelenjar getah bening prepektoral
Kelenjar getah bening ini merupakan kelenjar tunggal yang kadang-kadang terletak di bawah kulit atau di dalam jaringa payudara kuadran lateral atas disebut prepektoral karena terletak di atas fasia pektoralis.
Kelenjar getah bening interna
Kelenjar-kelenjar ini tersebut sepanjangt trunkus limfatikus mammaria interna, kira-kira 3 cm dari pinggir sternum, terletak di dalam lemak di atas fasia endothoraiska. Pada sela tiga, diperkiran jumlahnya sekitar 6-8 buah.
Susunan saraf
Susunan saraf payudara berasal dari cabangcutaneneous cervical dan saraf thirak spinal. Cabang saraf ketiga dan keempat cutaneus dari cervical plexus melewati bagian anterior, berakhir di jajaran tulang tiga yang kedua. Cabang-cabang ini menyumplai sensor ke bagia payudara atas, saraf thoracic spinal, T3, T6 membentuk saraf intercostals dan bercabang dari otot peectoralis major dekat sternum unutk menyuplai sensor ke bagian lateral payudara. Percabangan T2 memasuki bagian atas tubuh safaf intercostobrachial dan menyuplai sensor ke aksila. Susunan saraf areola dan puting susu disuplai oleh saraf parikang thoracic yang bercabang-cabang dengan membentuk membulat.

b.Laktasi
Masing-masing payudara terdiri atas sekitar 20 percabangan duktus yang terbuka melalui sinus ke atas permukaan putting susu. Terdapat benang-benang menyangga dari jaringan fibrosa yang melekatkan ke dinding dada, dan terdapat banyak sel-sel lemak di anta lobulus.
Sistem duktus telah terbentuk dengan baik setelah pubertas, kaerna keterlibatan estrogen, tetapi sekretorius asini hanya berkembang pada kehamilan di bawah pengaruh kadar progesterone yang tinggi. Prolaktin, suatu hormon dari kelenjar hipofisis, meningkatkan aksi baik pada estrogen maupun progesterone.
Setelah kelahiran anak, penurunan kadar estrogen dan progesterone menyebabkan peningkatan sekresi prolaktin dan hal ini merangsang sekresi air susu ibu oleh kelenjar asini. Sekresi yang pertama dihasilkan adalah kolostrum cairan yang kaya akan protein yang mengandung antibody. Setelah hari ketiga terbentuk laktasi normal.
Penghisapan bayi pada payudara merangsang putting susu menyebabkan refleks sekresi dari hormin oksitosin dari kelenjar hipofisis anterior. Oksitosin menyebabkan kontraksi serat-serat otot polos di sekitar asini dan air susu dengan cepat diejeksikan dari putting susu. Suatu refleks yang dikenal sebagai “letdown”  terbentuk pada beberapa hari pertama menyusui tetapi dengan jelas dipengaruhi oleh emosi. Pelepasan oksitosin juga membantu uterus untuk berkontraksi sehingga uterus kembali ke ukuran normalnya.

Prolaktin, suatu hormon yang disekresi oleh glandula pituitaria interior, penting untuk produksi air susu ibu, tetapi walaupun kadar hormon ini di dalam sirkulasi maternal meningkat selama kehamilan, bekerjanya hormon ini dihambat oleh hormon plasenta. Dengan lepasnya / keluarnya plasenta pada akhir proses persalinan, maka kadar estrogen dan progesteron berangsur-angsur turun sampai tinfkat dapat dilepaskannya dan diaktifkannya prolaktin.
Terjadinya suatu kenaikan pemasokan darah beredar lewat payudara dan dapat diekstaksi bahan penting  untuk pembentukan air susu. Globulin, lemak dan molekul-molekul protein dari darah sel-sel sekretoris akan membengkakkan acini dan mendorongkannya menuju ke tubuli laktifer.
Kenaikan kadar prolaktin akan menghambat ovulasi dan dengan demikian juga mempunyai fungsi kontrasepsi, tetapi ibu perlu memberikan air susu 2 sampai 3 kali setiap jam agar pengaruhnya benar-benar efektif.
Dua faktor yang terlibat dalam mengalirkan air susu dari sel-sel sekretorik ke papilla mamae: tekanan dari belakang dan efek neurohormonal.

Payudara (mammae, susu) adalah kelenjar yang terletak di bawah kulit, di atas otot dada. Fungsi dari payudara adalah memproduksi susu untuk nutrisi bayi. Manusia mempunyai sepasang kelenjar payudara, yang beratnya kurang lebih 200 gram, saat hamil 600 gram dan saat menyusui 800 gram.
Pada payudara terdapat tiga bagian utama, yaitu :

Korpus (badan), yaitu bagian yang membesar.

Areola, yaitu bagian yang kehitaman di tengah.

Papilla atau puting, yaitu bagian yang menonjol di puncak payudara.

Gambar 1. Anatomi payudara

Korpus
Alveolus, yaitu unit terkecil yang memproduksi susu. Bagian dari alveolus adalah sel Aciner, jaringan lemak, sel plasma, sel otot polos dan pembuluh darah.
Lobulus, yaitu kumpulan dari alveolus.
Lobus, yaitu beberapa lobulus yang berkumpul menjadi 15-20 lobus pada tiap payudara.
ASI dsalurkan dari alveolus ke dalam saluran kecil (duktulus), kemudian beberapa duktulus bergabung membentuk saluran yang lebih besar (duktus laktiferus).

Areola
Sinus laktiferus, yaitu saluran di bawah areola yang besar melebar, akhirnya memusat ke dalam puting dan bermuara ke luar. Di dalam dinding alveolus maupun saluran-saluran terdapat otot polos yang bila berkontraksi dapat memompa ASI keluar.

Papilla
Bentuk puting ada empat, yaitu bentuk yang normal, pendek/ datar, panjang dan terbenam (inverted).

Gambar 2. Bentuk puting susu normal
Gambar 3. Bentuk puting susu pendek
Gambar 4. Bentuk puting susu panjang
Gambar 5. Bentuk puting susu terbenam/ terbalik

2.2. Dukungan Bidan Dalam Pemberian ASI
Para bidan mempunyai peran istimewa dalam menunjang pemberian ASI. Karena dengan demikin seorang ibu akan mempeorleh dukungan percaya diri tentang kemampuannya memberi ASI. Pada masa kehamilan bidanjuga dapat memberikan penjelasan dan penyluhan tentan gmanfat dan keunggulan ASI, manfaat menyusui baik bagi ibu dan bayinya, bahanya pemberian susu formula serta perawatan payudara sejak umur kemahilan 6 bulan.
Professional perwatan kesehatan (bidan) mempunyai tanggung jawab utnuk memberikan lingkungan yang mendukung kelanjutan upaya ibu untuk menyusui bayinya. Fungsi bidantidak hanyua memberikan pengetahuan yang diperluakan pada ibu, tapi juga untuk mengindentifikasi keterampilan-kerampilan yang diperlukan dan terutama meningkatkan kepercayaan diri dan otonominya. Pemahaman tentang membina kelekatan yang tept dan kemampuannya mengajarkan kepada ibu adalah hal yang sangat penting.
Untuk mengajari ibu , bidan memerlukan pengetahuan dan pemahaman tentang proses fiologis menyusui. Oleh Karena itu, pengetahuan ini perlu diterapkan sehingga ibu dapat memahami tentang apa yang sedang terjadi. Keterampilan yang perlu dimiliki bidan adalah kemampuan untuk mengajarkan ibu tentang praktik pelekatan bayi (hubungan yang terjadi antara ibu dan bayi) saat menyusui sehingga ibu dapat melakukannya secara mandiri, bagaimana cara pemberian ASI yang baik, serta proses penyimpanan ASI jika tidak diberikansecara langsung.
Menyusui harus dianggap sebagai aktifitas rileks dan saling memuaskan antara ibu dan bayinya. Bidan membantu ibu dengan menolongnya menemukan plsisi yang nyaman untuk memulai menyusui. Sambil membimbing ibu dalam upayanya, bidanjuga dapat menggunakan waktu ini untuk mengetahui perilaku normal bayi selama pengisapan. Bidan yang membimbing ibu dalam pengalaman menyusui harus selaluy meyakinkan ibu bahwa ia akan berhasil dalam menyusui.

2.3. Manfaat Peberian ASI
ASI memiliki manfaat yang sangat besar baik bagi bayi, ibu dan orang-orang sekitarnya.
a. bagi bayi
– ASI mengandung semua bahan yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi
– Bebas bakteri dan tersedia dalam suhu yang ideal tanpa alat pembantu.
– Memberikan perlindungan dari infeksi, termasuk penyakit gastrointestinal penyakit pernapasan, enterokolitis, dan apendisitis
– Menurunkan risiko sidrom kematian bayi tiba-tiba
– Meberikan perlindungan dari laergi
– Mencegah terjadinya keadaan gizi salah (kelebihan makan dan obesitas)
– Mengandung asam lemak yang diperlukan untuk pertumbuhan otak sehingga bayi menjadi lebih pandai
– Meningkatkan daya penglihatan dan kepandaiaan bicara
– Menunjang perkembangan kperibadian, kecerdasan emosional, kematangan spiritual dan hubugna sosial yang baik.
b. Bagi ibu
– menurunkan kehilangan darah setelah melahirkan dan mengurangi terjadinya anemia
– menurunkan tingkat ansietas, stress, depresi, keletihan dan rasa bersalah
– menunda terjadinya ovulasi sehingga meningkatkan jarak kelahiran anak yang disebabkan oleh amenorea laktasi
– memberiokan risiko osteoposisis, kanker payudara pada wanita terutama bila menyusui lebih dari 3 bulan
– menurunkan risiko kaner ovarium
– memberi kepuasan, kebanggan, dan kebahagiaan bagi ibu. Hubungan batin antara ibu dan bayinya menjadi lebih terasa karena dekatnya hubungan mereka melalui proses penyusuan.
c. Bagi keluarga
– dapat mengurangi biaya pengeluaran keluarga. Karena tidak perlu membeli susu formula dan botol dot
– menunda penggunaa alat kontrasepsi, menghemat waktu, ASI siap setiap saat jika diperlukan
– portable dan praktis ASI dapat diberikan dimana saja dan kapan saja dalam keadaan segar.
– Tidak merepotkan dan hemat waktu
d. Bagi Negara/bangsa
– penghematan devisa untuk pembelian susu formula, perlengkapan menyusui serta biaya menyiapkan susu
– penghematan untuk biaya sakit terutama sakit muntah / mencret dan sakit saluran napas
– penghematan obat-obatan, tenaga, dan saran kesehatan
– menciptakan generasi penerus bangsa yang tanggunh dan berkualisatas untuk membangun Negara
– langkah awal untuk mengurangi bahkan menghindari kemungkinan terjadinya generasi yang hilang khususnya bagi Indonesia
2.4. Komposisi gizi dalam ASI
a. Kolostrum
Kolostrum atau ASI pertam berbeda dengan air susu yang berwarna puti, karena kolostrum mengandung lebih banyak protein (terdapat sekitar 1% dalam air susu putih) lebih banyaka mengandung immunoglobulin ASI (lgA), laktoferin dan sel-sel darah putih yang tersedi unutk bayi dan dapat memenuhi semua kebutuhan nutrisi. Kolostrum yang berubah menjadi ASI matang antara 3 dan 14 hari setelah melahirkan dirancang sedemikian rupa sehingga tidak membebani ginjal bayi yang belum matang. Kolostrum mengandung immunoglobulin yang berguna melapisi usus dan lmelindunginya dari infeksi bakteri dan virus. Selain yang telah dijelaskan, kolostrum juga mendaung zat antivirus dan antibakteri sebagai berikut:
lysozime: enzim yang sangat berperan efektif disalurkan pencernaan yangbertugas menghancurkan dinding sel bakteri pathogen dan melindung salurang pencernaan bayi.
– Bifidobakteri: bertugas mengasamkan lambung sehingga bakteri pathogen dan parasit mampu bertahan hidup.
Laktoferin: bertugas mengikat zat besi sehingga bakteri patogen yang membutuhkan zat besi diboikot untuk tidak mendapat suplasi zat besi sehingga pertumbuhannya terhambat.
– Latoferoksida: bersama unsure lain berperang melawan abketeri streptococcus (yang dapat menyebabkan penyakit paru0, pseudom,onia, dan eschercia coli
ASI tidak hanyua menyesuaikan diri untuk berespon terhadpa infeksi, ASI juga mengubah unsure-unsur gizi sesuai dengan kebutuhan bayi. Unsure-unsur gizi yang banyak terkandung di dalam ASI yaitu:
b. Protein
Protein dalam ASI mencapati kadar yang lebih dari cukup untuk pertumbuhan optimal, sementara ASI juga mengandung muatan yang mudah larut sesuai untuk ginjal yang belum matang. Kasein dalam ASI adalah 80:20, yang menghasilkan “kepala susu” yang lebih lembut dlam lambung sehingga mengurangi waktu pengosongan lambung dan membantu pecernaan. Sedangkan kasein dalam susu sapi hanya 20:80 terdapat berbagai subtansi dalam ASI yang belum sepenuhnya dipahami, misalnya asam amino taurin, yang kin dianggap penting untuk petumbuhan otak manusia dan absorbsi lemak.
c. Lemak
Seperti halnya substansi protein dalam ASI dapat membantu absorbsi lemak. Lemak sendiri memiliki beberapa fungsi dalam tubuh dan berperan pentinng dlam kualitas peletana myelin. Hal ini ditandai dengan jharngnya kedajadian sklerosisi multiple di Negara-negara yang masyarakat umumya memberikan ASI
d. Karbohidrat (laktosa)
Perkembangan sistem saraf pusat merupakan bagian dari fungsi laktosa dalam ASI. Laktosa juga memberi sekitar 40% kebutuhan energi bayi. Laktosa membantu pertumbuhan laktobasilus bifidus, merupakan koloni yang membantu menghambat pertumb uhan baketeri patone. Hal ini terjadi karena media yang dihasilkan oleh bakteri bersifat memusuhi pertumbuhan bakteri patogen lainnya.
e. Vitamin
ASI memberi vitamin yang cukup bagi bayi walaupun kadarnya bervariasi sesuai dengan diet ibunya. Penting bagi bayi untuk mendapatkan kolostrum dan kemudian susu awal untuk memastikan bahwa vitamin yang larut diperleh oleh bayi.
f. Mineral
Kadar natrium lebih banyak sehingga melindungi neonatus dari dehidrasi dan kelebihan natrium dalam darah. Sebanayak 50-70% besi diserap dari ASI bila dibandingkan dari susu sapi yang hanya diserap 10-30%. ASI juga mendangung molekul pengikat sesng, asam pikolinat yang membuat penyerapan seng lebih efisien. Rasio kalsium dan fosfor ASI sesuai untuk mineralisasi tulang bila dibandingkan dengan susu sapi.
2.5. Upaya memperbanyak ASI
Upaya menghasilakan ASI yang banyak dapat dilakukan dengan cara pembinaan dan pemeliharaan laktasi. Semakin seinr gibu menyusui, semakin banyak produksi ASInya. Karena setiap kali menyusui akant erkirim sinyal ke otak yang mengelurkan hormon oksotsin dan prolakttin. Upaya memperbanyak ASI dapat dilakukan oleh bayi maupun ibu. Adapun beberapa cara yang dapat dilakukan unutk memperbanyak ASI yaitu:
a. sususilah bayi sesering mungkin setiap 2 jam, siang dan malam hari dengan lama menyusui 10-15 menit.
b. Setelah melahirkan bayi sebaiknya diperkenalkan dengan payudara walaupun ASI belum keluar. Biarkan bayi mencari sendri putting susu ibunya (reflek tooting) karena isapan bayi sedini mungkin sangat penting bagi peningkatan ASI
c. Pastikan bayi menyusu deng aposisi menempel yang baik dan dengarkan suara menelan yang aktif
d. Susuilah bayi sampai payudara terasa kosong bila ASI masih bersisi, menyusui berikutnya dimulai dari payudara yang belum kosong
e. Susui bayi di tempat yang tenang dan nyaman. Dan perbanyak munum setelah selesai menyusui
f. Ibu harus mempersiapkan mental untuk menyusui bayi. Motivasi yang kuat untuk menyusui bayi merupakan salah satu upaya dalam memperbanyaka
g. Gunakan bra yang longgar
h. Pentingnya mengikuti penyluhan tentang manfaat dan keuntungan ASI serta aspek-aspek lain tentang menyusui dan laktasi
i. Melakukan perawatan payudara dan senam untuk kesehatan
j. Tingkatkan gizi pada makanan dan dikonsumsi, dan istirahat yang cukup
k. Yakinkan diri ibu bahwa ia dapat memproduksi ASI lebih banyak melakukan hal tersebut di atas
2.6. ASI EKSLUSIF

Bayi hanyadiberi ASI saja, tanpa tambahan cairan lain seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, air putih, dan tanpa tambahan makanan padat seperti pisang, pepaya, bubur susu, biskuit, buburnasi, dan tim Sampai6 bulan.Setelah6 bulan mulai diberimakananpendampingASI, sedangkanASI dapat diberikan sampai 2 tahun/ lebih

2.7. CARA MERAWAT PAYUDARA

Merawat payudara selama hamil adalah suatu hal penting yang harus diperhatikan sebagai persiapan untuk menyusui nantinya. Saat kehamilan payudara akan membesar dan daerah sekitar putting akan lebih gelap warnanya dan juga lebih sensitive

Banyak ibu hamil mengabaikan perawatan payudara. Boleh jadi lantaran malas atau sesungguhnya belum mengetahui akan manfaatnya. Padahal perawatan payudara selama hamil sangat penting untuk kelancaran air susu kelak setelah melahirkan. Malah, dengan perawatan yang benar, hasilnya bukan cuma produksi yang cukup, tapi juga bentuk payudara akan tetap baik selama menyusui “.

TIGA LANGKAH PERAWATAN
Perawatan payudara dianjurkan mulai dilakukan setelah kehamilan berusia 5-6 bulan. Sebab, jika sejak awal kehamilan kita sudah melakukan perangsangan puting, misalnya, bukan hasil baik yang diperoleh tapi malah bisa menimbulkan kontraksi rahim.

Adapun perawatan yang dilakukan ialah:

  1. Pemijatan

  1. 1. Hal ini bisa dilakukan bersamaan saat mandi. Siapkan baskom air hangat dan air dingin, baby oil, waslap/ handuk, serta kapas.
    Bersihkan payudara sebelumnya, lalu massage memakai baby oil. Pemijatan dilakukan disekeliling payudara diurut memutar searah jarum jam dan kemudian berbalik arah/berlawanan jarum jam. Setelah itu lakukan pengurutan dari bawah menuju puting, namun putingnya sendiri tak perlu di-massage karena tak berkelenjar tapi hanya merupakan saluran air susu belaka.
    Ketuk-ketuklah payudara dg ujung jari atau ujung ruas jari agar sirkulasi darah bekerja lebih baik. Selanjutnya puting dibersihkan dengan menggunakan kapas dan baby oil yang berguna melenturkan dan melembabkan puting agar saat menyusui kelak puting sudah tak gampang lecet.
    Terakhir, bersihkan payudara dan puting memakai air hangat dan dingin. Tujuannya untuk memperlancar sirkulasi darah. Setelah itu keringkan pakai handuk.
  2. 2. Senam Teratur
    Sebaiknya payudara juga dirawat dengan melakukan senam. Gunanya untuk memperkuat otot pektoralis di dada, sehingga memadatkan payudara dan merangsang produksi ASI agar lebih baik.
    Senamnya sangat mudah kok. Bisa dilakukan sebelum atau sesudah mandi.

Ada dua macam senam yang bisa dilakukan para ibu, yaitu:
1. Posisi berdiri, tangan kanan memegang bagian lengan bawah kiri dekat siku, sebaliknya tangan kiri memegang lengan bawah kanan (seperti orang bersidekap). Kemudian tekan kuat-kuat ke arah dada dengan cara mempererat pegangan, sehingga terasa tarikannya pada otot-otot di dasar payudara. Selanjutnya lemaskan kembali. Lakukan berulang-ulang hingga 30 kali.

2. Pegang bahu dengan kedua ujung tangan, kemudian siku diputar ke depan sehingga lengan bagian dalam mengurut (massage) payudara ke arah atas.
Diteruskan gerakan tangan ke atas ke belakang dan kembali pada posisi semula. Lakukan latihan ini 20 kali putaran.

3.  Memakai Bra Yang Pas
Untuk mengatasi rasa tak enak pada saat payudara membesar, pakailah bra yang pas dan bisa memegang. Jangan pakai yang terlalu ketat atau longgar, tapi harus benar-benar pas sesuai ukuran payudara saat itu dan dapat menopang perkembangan payudara. Jika terlalu sempit akan menghambat perkembangan kelenjar payudara, sedangkan kalau terlalu longgar akan tampak jatuh dan sakit dipakainya.
Bila anda berencana untuk menyusui anda dapat memulai menggunakan bh untuk menyusui pada akhir kehamilan anda. Pilihlah bh yang ukurannya sesuai dengan payudara anda, memakai bh yang mempunyai ukuran yang tidak sesuai dengan ukuran payudara dapat menyebabkan infeksi seperti mastitis ( suatu infeksi pada kelenjar susu di payudara).
Jika payudara sangat besar, ada baiknya untuk memilih yang memakai penyangga kawat. Karena bra yang tak menopang dengan baik pada payudara besar cenderung akan turun dan membentuk lipatan di bagian bawah payudara. Sementara jika si ibu tak menjaga kebersihan dan kekeringan di bawah lipatan tersebut, maka jamur biasanya akan tumbuh. Jangan lupa, tubuh ibu hamil cenderung berkeringat. Untuk itu, pilihlah bra dari bahan katun atau campuran katun sehingga nyaman dipakai dan mudah menyerap keringat. Tali pengikatnya agar dipilih yang lebar sehingga dapat menyangga payudara dengan baik. Bila jamur sudah terlanjur hadir, segera bawa ke dokter. Sebab, jika jamur naik hingga ke seluruh payudara bisa menjadi masalah pada saat menyusui nanti.

Perawatan payudara selama hamil memiliki banyak manfaat, antara lain:

• Menjaga kebersihan payudara terutama kebersihan puting susu.
• Melenturkan dan menguatkan puting susu sehingga memudahkan bayi untuk
menyusu.
• Merangsang kelenjar-kelenjar air susu sehingga produksi ASI banyak dan
lancar.
• Dapat mendeteksi kelainan-kelainan payudara secara dini dan melakukan upaya
untuk mengatasinya.
• Mempersiapkan mental (psikis) ibu untuk menyusui
.

Bila seorang ibu hamil tidak melakukan perawatan payudara dengan  baik dan
hanya melakukan perawatan menjelang melahirkan atau setelah  melahirkan maka sering dijumpai kasus-kasus yang akan merugikan ibu dan  bayi. Kasus-kasus yang sering terjadi antara lain:

ASI tidak keluar. Inilah yang sering terjadi. Baru keluar setelah hari
kedua atau lebih.

Puting susu tidak menonjol sehingga bayi sulit menghisap.

Produksi ASI sedikit sehingga tidak cukup dikonsumsi bayi.

• Infeksi pada payudara, payudara bengkak atau bernanah.
• Muncul benjolan di payudara, dll.
a. Umur kehamilan 3 bulan

Periksa puting susu untuk mengetahui apakah puting susu datar atau  masuk ke
dalam dengan cara memijat dasar puting susu secara perlahan.  Puting susu yang
normal akan menonjol keluar. Apabila puting susu tetap  datar atau masuk
kembali ke dalam payudara, maka sejak hamil 3 bulan  harus dilakukan perbaikan
agar bisa menonjol.
Caranya adalah dengan menggunakan kedua jari telunjuk atau ibu jari,  daerah
di sekitar puting susu diurut ke arah berlawanan menuju ke dasar  payudara
sampai semua daerah payudara. Dilakukan sehari dua kali selama  6 menit atau bisa disedot dg pompa susu/ breast pump

b. Umur kehamilan 6-9 bulan

• Kedua telapak tangan dibasahi dengan baby oil.
• Puting susu sampai areola mamae (daerah sekitar puting dengan  warna lebih
gelap) dikompres dengan baby oil selama 2-3 menit.  Tujuannya untuk
memperlunak kotoran atau kerak yang menempel pada  puting susu sehingga mudah
dibersihkan. Jangan membersihkan dengan  alkohol, sabun atau yang lainnya karena menyebabkan  iritasi atau puting susu lecet.
• Kedua puting susu dipegang lalu ditarik, diputar ke arah dalam dan ke arah
luar (searah dan berlawanan jarum jam).
Pangkal payudara dipegang dengan kedua tangan, lalu diurut ke arah puting
susu sebanyak 30 kali sehari.

Pijat kedua areola mamae hingga keluar 1-2 tetas.

• Kedua puting susu dan sekitarnya dibersihkan dengan handuk kering dan
bersih.

• Pakai BH yang pas tidak ketat atau longgar yg bersifat menopang payudara, jangan memakai BH yang ketat dan menekan payudara.
2.8. CARA MENYUSUI YANG BENAR

Tehnik menyusui:

Posisi dan perlekatan menyusui

Ada beberapa macam posisi menyusui:duduk, berdiri, atau berbaring.

Posisi : Bayi lurus sejajar, menghadap ibu, telinga dan lengan pada satu garis lurus, dagu bayi setinggi aerola,ada bonding antara ibu dan bayi.Perlekatan : hidung menempel payudara, sebagaian besar aerola bawah masuk mulut,mulut terbuka lebar, bibir bawah ndower

Langkah menyusui yang benar :

ebelum menyusui, ASI dikeluarkan sedikit kemudian dioleskan pada putimg susu dan aerola sekitarnya.Cara ini mempunyai manfaat sebagai desinfektan dan menjaga kelembaban puting susu.

Bayi diletakkan menghadap perut ibu/payudara.

Payudara dipegang dengan ibu jari diatas dan jari lain menopang dibawah, jangan menekan puting susu atau aerolanya saja.

Bayi diberi rangsangan untuk membuka mulut (rooting reflek) dengan cara : 1. menyentuh pipi dengan puting susu atau, 2.menyentuh sisi mulut bayi

Setelah bayi membuka mulut,dengan cepat kepala bayi didekatkan ke payudara  ibu dengan puting serta aerola dimasukkan ke mulut bayi;

a. Usahakan sebagaian besar aerola dapat masuk kemulut bayi,sehingga puting susu berada dibawah langit-langit dan lidah bayi akan menekan ASI keluar dari tempat penampungan ASI yang terletak dibawah aerola. b. Setelah bayi mulai menghisap, payudara tak perlu dipegang atau disangga lagi

Cara pengamatan Tehnik menyusui Yang Benar :

Menyusui dengan tehnik yang tidak benar bisa menyebabkan puting susu menjadi lecet, ASI keluar tidak optimal sehingga mempengaruhi produksi ASI selanjutnya atau bayi enggan menyusu.Untuk mengetahui bayi telah menyusui dengan benar,

perhatikan :

–         Bayi tampak tenang

–         Badan bayi menempel pada perut ibu,

–         Mulut bayi terbuka lebar,

–         Dagu bayi menempel pada payudara ibu,

–         Sebagaian besar aerola masuk kedalam  mulut bayi,aerola bawah lebih banyak yang masuk,

–         Bayi nampak mengisap dngan kuat dengan irama perlahan,

–         Puting susu ibu tidak terasa nyeri,

–         Telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus,

–         Kepala agak menengadah.

–         Melepas isapan bayi

Setelah meyusui pada satu payudara sampai terasa kosong,sebaiknya mengganti denagn payudara yang lain.Cara melepas isapan bayi :

# jari kelingking ibu dimasukkan kemulut bayi melalui sudut mulut atau,

# dagu bayi ditekan kebawah.

Setelah selesai menyusui,ASI dikeluarkan sedikit kemudian dioleskan pada  puting susu dan aerola sekitarnya,biarkan kering dengan sendirinya.

Menyendawakan bayi,dengan tujuan mengeluarkan udara dari lambung supaya bayi tidak muntah(gumoh)setelah menyusui.dengan cara: Bayi digendong tegak dengan bersandar pada bahu ibu kemudian punggungnya ditepuk perlahan-lahan atau, Bayi tidur tengkurap dipangkuan ibu,kemudian punggungnya ditepuk perlahan-lahan.

Lama dan frekwensi menyusui

Sebaiknya bayi disusui secara sesuai keinginan bayi(on demand),karena bayi akan menentukan sendiri kebutuhannya.Bayi yang sehat dapat mengosongkan satu payudara sekitar 5-7 menit dan ASI dalam lambung akan kosong dalam 2 jam. Menyusui yang dijadwalkan akan berakibat kurang baik,karena isapan bayi sangat berpengaruh pada rangssangan produksi berikutnya.menyusui malam hari juga akan memacu produksi ASI.

Selama masa menyusui sebaiknya ibu menggunakan BH (kutang) yang dapat menyangga payudara,tetapi tidak terlalu ketat.

Pengeluaran ASI

Apabila ASI berlebihan, sampai keluar memancar,maka sebelum menyusui sebaiknya ASI dikeluarkan lebih dahulu untuk menghindari bayi tersedak atau enggan menyusu.Pengeluaran ASI juga berguna bagi ibu yang bekerja bisa meninggalkan ASI untuk bayinya.

Pengeluaran ASI dapat dilakukan dengan dua cara :

Pengeluaran dengan tangan : tangan ibu dicuci dengan bersih,menyiapkan cangkir/gelas tertutup yang telah dicuci dengan air mendidih.ibu melakukan pemijatan payudara dengan kedua telapak tangan dari pangkal ke arah aerola.dilakukan pemijatan  secara merata mengelilingi payudara.

Pengeluaran dengan pompa

Bila payudara bengkak atau terbendung dan puting susu terasa nyeri,maka akan lebih baik bila ASI dikeluarkan dengan pompa payudara.Pompa baik digunakan bila ASI benar-benar penuh,tetapi pada payudara yang lunak akan lebih sukar.Ada dua macam pompa,pompa tangan dan pompa listrik,yang biasa digunakan adalah pompa Payudara tangan.

2.9. Masalah dalam pemberian ASI

Faktor-faktor yang memperoleh Produksi ASI

Adapun hal-hal yang mempengaruhi produksi ASI antara lain adalah:

Makanan Ibu

Makanan yang dimakan seorang ibu yang sedang dalam masa menyusui tidak secara langsung mempengaruhi mutu ataupun jumlah air susu yang dihasilkan. Dalam tubuh terdapat cadangan berbagai zat gizi yang dapat digunakan bila sewaktu-waktu diperlukan. Akan tetapi jika makanan ibu terus menerus tidak mengandung cukup zat gizi yang diperlukan tentu pada akhirnya kelenjar-kelenjar pembuat air susu dalam buah dada ibu tidak akan dapat bekerja dengan sempurna, dan akhirnya akan berpengaruh terhadap produksi ASI.

Unsur gizi dalam 1 liter ASI setara dengan unsur gizi yang terdapat dalam 2 piring nasi ditambah 1 butir telur. Jadi diperlukan kalori yang setara dengan jumlah kalori yang diberikan 1 piring nasi untuk membuat 1 liter ASI. Agar Ibu menghasilkan 1 liter ASI diperlukan makanan tamabahan disamping untuk keperluan dirinya sendiri, yaitu setara dengan 3 piring nasi dan 1 butir telur.

Apabila ibu yang sedang menyusui bayinya tidak mendapat tamabahan makanan, maka akan terjadi kemunduran dalam pembuatan ASI. Terlebih jika

pada masa kehamilan ibu juga mengalami kekurangan gizi. Karena itu tambahan makanan bagi seorang ibu yang sedang menyusui anaknya mutlak diperlukan. Dan walaupun tidak jelas pengaruh jumlah air minum dalam jumlah yang cukup. Dianjurkan disamping bahan makanan sumber protein seperti ikan, telur dan kacang-kacangan, bahan makanan sumber vitamin juga diperlukan untuk menjamin kadar berbagai vitamin dalam ASI.

Ketentraman Jiwa dan Pikiran

Pembuahan air susu ibu sangat dipengaruhi oleh faktor kejiwaan. Ibu yang selalu dalam keadaan gelisah, kurang percaya diri, rasa tertekan dan berbagai bentuk ketegangan emosional, mungkin akan gagal dalam menyusui bayinya.

Pada ibu ada 2 macam, reflek yang menentukan keberhasilan dalam menyusui bayinya, reflek tersebut adalah:

– Reflek Prolaktin

Reflek ini secara hormonal untuk memproduksi ASI. Waktu bayi menghisap payudara ibu, terjadi rangsangan neorohormonal pada putting susu dan aerola ibu. Rangsangan ini diteruskan ke hypophyse melalui nervus vagus, terus kelobus anterior. Dari lobus ini akan mengeluarkan hormon prolaktin, masuk ke peredaran darah dan sampai pada kelenjar –kelenjar pembuat ASI. Kelenjar ini akan terangsang untuk menghasilkan ASI.

– Let-down Refleks (Refleks Milk Ejection)

Refleks ini membuat memancarkan ASI keluar. Bila bayi didekatkan pada payudara ibu, maka bayi akan memutar kepalanya kearah payudara ibu. Refleks memutarnya kepala bayi ke payudara ibu disebut :”rooting reflex (reflex menoleh). Bayi secara otomatis menghisap putting susu ibu dengan bantuan lidahnya. Let-down reflex mudah sekali terganggu, misalnya pada ibu yang mengalami goncangan emosi, tekanan jiwa dan gangguan pikiran. Gangguan terhadap let down reflex mengakibatkan ASI tidak keluar. Bayi tidak cukup mendapat ASI dan akan menangis. Tangisan bayi ini justru membuat ibu lebih gelisah dan semakin mengganggu let down reflex.

Pengaruh persalinan dan klinik bersalin

Banyak ahli mengemukakan adanya pengaruh yang kurang baik terhadap kebiasaan memberikan ASI pada ibu-ibu yang melahirkan di rumah sakit atau klinik bersalin lebih menitik beratkan upaya agar persalinan dapat berlangsung dengan baik, ibu dan anak berada dalam keadaan selamat dan sehat. Masalah pemebrian ASI kurang mendapat perhatian. Sering makanan pertama yang diberikan justru susu buatan atau susu sapi. Hal ini memberikan kesan yang tidak mendidik pada ibu, dan ibu selalu beranggapan bahwa susu sapi lebih dari ASI. Pengaruh itu akan semakin buruk apabila disekeliling kamar bersalin dipasang gambar-gambar atau poster yang memuji penggunaan susu buatan.

Penggunaan alat kontrasepsi yang mengandung estrogen dan progesteron.

Bagi ibu yang dalam masa menyusui tidak dianjurkan menggunakan kontrasepsi pil yang mengandung hormon estrogen, karena hal ini dapat mengurangi jumlah produksi ASI bahkan dapat menghentikan produksi ASI secara keseluruhan oleh karena itu alat kontrasepsi yang paling tepat digunakan adalah alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) yaitu IUD atau spiral. Karena AKDR dapat merangsang uterus ibu sehingga secara tidak langsung dapat meningkatkan kadar hormon oxitoksin, yaitu hormon yang dapat merangsang produksi ASI.

Perawatan Payudara

Perawatan fisik payudara menjelang masa laktasi perlu dilakukan, yaitu dengan mengurut payudara selama 6 minggu terakhir masa kehamilan. Pengurutan tersebut diharapkan apablia terdapat penyumbatan pada duktus laktiferus dapat dihindarkan sehingga pada waktunya ASI akan keluar dengan lancar.

Dan ada beberapa masalah lainnya yang bias menghambat untuk member ASI yaitu :

Posisi menyusui
Puting terlalu pendek
Puting lecet
Jadi sebelum melahirkan, sebaiknya membeli salep PureLan dari Medela untuk diolesin ke puting kalau lecet.
Salep ini aman, tidak perlu dicuci dulu sebelum baby menyusu. Kandungannya lanolin, mungkin ada merk lain juga.
Engorgement/ Mastitis
Awal-awal setelah melahirkan, produksi susu masih dikit, trus tiba-tiba jadi banyak. Saat ini kadang terjadi pembengkakan. Kalau tidak di keluarkan maka akan mengeras untuk mengatasi nya kompres saja dengan air hangat dan dingin. Bingung puting
ASI terlalu deras
cara mengatasinya pompa dulu sebelum di berikan ke bayi sebaiknya menyusui dalam posisi reclined (baby di atas)

Tumbuh gigi
Produksi menurun
Pada waktu mau mens dan beberapa hari setelahnya biasanya produksi ASI menurun,

Produksi ASI yang rendah adalah akibat dari:

  • Kurang sering menyusui atau memerah payudara
  • Apabila bayi tidak bisa menghisap ASI secara efektif, antara lain akibat: struktur mulut dan rahang yang kurang baik; teknik perlekatan yang salah.
  • Kelainan endokrin ibu (jarang terjadi)
  • Jaringan payudara hipoplastik
  • Kelainan metabolisme atau pencernaan bayi, sehingga tidak dapat mencerna ASI
  • Kurangnya gizi ibu

Konsep Dasar Asuhan Kebidanan Ibu dalam Masa persalinan

Konsep Dasar Asuhan Kebidanan Ibu dalam Masa persalinan

2.1 Persalinan

  • Persalinan adalah suatu proses fisiologik yang memungkinkan serangkaian perubahan yang besar pada ibu untuk dapat melahirkan janinnya melalui jalan lahir. Ini di definisikan sebagai pembukaan serviks yang progresif, dilatasi atau keduanya, akibat kontraksi rahim teratur yang terjadi sekurang-kurangnya setiap 5 menit dan berlangsung sampai 60 detik.
  • Persalinan adalah suatu proses dimana fetus dan plasenta keluar dari uterus, ditandai dengan peningkatan aktifitas myometrium ( frekuensi dan intensitas kontraksi) yang menyebabkan penipisan dan pembukaan serviks serta keluarnya lendir darah (“show”) dari vagina.

2.2 Sebab-sebab Mulainya Persalinan

Ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya proses persalinan, yakni:

  1. Penurunan fungsi placenta diakhir usia kehamilan menyebabkan kadar estrogen dan progesteron menurun mendadak sehingga nutrisi untuk janin dan placenta berkurang.
  2. Tekanan pada ganglion servikale dari pleksus frankenhauser menjadi stimulasi bagi kontraksi otot polos rahim.
  3. Peningkatan beban/stress pada calon ibu dan janin menyebabkan peningkatan kativasi kortison,prostaglandin dan oksitosin menjadi pencetus rangsangan2 untuk melahirkan.

2.3 Tahapan persalinan

A. Tahap I : mulai dari awal his sampai pembukaan lengkap (sekitar 10 cm)
# Fase awal (fase laten)
– Kontraksi semakin kuat dan teratur
– Rasa nyeri masih bersifat minimal
– Serviks menipis dan membuka sampai sekitar 4 cm
– Fase ini berlangsung selama 8,5 jam (pada kehamilan pertama) dan 5 jam (pada kehamilan selanjutnya)
# Fase aktif
– Serviks membukan sampai 10 cm
– Bagian terendah bayi (biasanya kepala) mulai turun ke dalam panggul ibu
– Ibu mulai merasakan desakan untuk mengedan
– Fase ini berlangsung sekitar 5 jam (pada kehamilan pertama) dan 2 jam (pada kehamilan berikutnya)

B. Tahap II : mulai dari pembukaan lengkap sampai bayi keluar dari rahim ibu.
Berlangsung selama 60 menit (pada kehamilan pertama) dan 15-30 menit (pada kehamilan berikutnya).
C. Tahap III : mulai dari kelahiran bayi sampai pengeluaran plasenta (ari-ari). Biasanya hanya berlangsung selama beberapa menit.

2.4 Tujuan Asuhan Persalinan

Tujuan Asuhan Persalinan Normal (APN)

Mengupayakan kelangsungan hidup dan mencapai derajat kesehatan yang tinggi bagi ibu dan bayinya,melalui berbagai upaya yang terintegrasi dan lengkap serta intervensi minimal sehingga prinsip keamanan dan kualitas pelayanan dapat terjaga pada tingkat yang optimal.Dengan pendekatan seperti ini,berarti bahwa upaya asuhan persalinan normal harus di dukung oleh adanya alas an yang kuat dan berbagai bukti ilmiah yang dapat menunjukan adanya manfaat apabila di aplikasikan pada setiap proses persalinan.

2.5 Tanda-tanda Persalinan

Proses persalinan berbeda-beda pada tiap individu, namun ada beberapa tanda yang dapat membantu ibu untuk memperkirakan kapan waktu persalinan tiba.
Tanda palsu
# Selama kehamilan, ibu akan merasakan kontraksi rahim (mulas, kram perut) yang lemah dan tidak teratur, yang disebut kontraksi Braxton Hicks. Kontraksi tersebut tidak menyebabkan lahirnya bayi.
# Menjelang persalinan akan terjadi kontraksi otot-otot rahim yang menyebabkan bayi lahir, ini disebut His.
# His pada bulan terakhir kehamilan akan terjadi beberapa kali, namun perlu diperhatikan apakah his tersebut merupakan his palsau (his pendahuluan) atau his persalinan.
# Ciri-ciri his palsu adalah :
a. Tidak teratur, tidak menyebabkan nyeri di perut bagian bawah dan lipatan paha.
b. Tidak menyebabkan nyeri memancar dari pinggang ke perut bagian bawah.
c. Lama kontraksi pendek dan tidak begitu kuat, bila dibawa berjalan kontraksi biasanya menghilang.
d. Tidak bertambah kuat seiring dengan bertambahnya waktu.
e. Tidak ada pengaruh pada pembukaan mulut rahim.
Sedangkan tanda mulainya persalinan adalah :

  • Timbulnya kontraksi yang bersifat:
  1. nyeri memancar dari pinggang ke perut bawah
  2. sifatnya teratur dan makin lama makin sering dan kuat
  3. Jika dibawa berjalan makin kuat
  4. mempengaruhi pendataran dan pembukaan mulut rahim
  • Keluarnya lendir berdarah dari jalan lahir karena lepasnya selaput janin dari mulut rahim.
  • Tiba-tiba keluar banyak cairan dari jalan lahir yang terjadi kalau ketuban pecah atau robek karena pembukaan hampir/sudah  lengkap. Ketuban bisa pecah pada pembukaan awal atau sebelum mulainya persalinan. Biasanya persalinan akan berlangsung dalam 24 jam

Ketika mulai terjadi kontraksi, setiap timbul catatlah frekwensinya, kekuatan, lamanya kontraksi tersebut. Gunakan stopwatch atau jam tangan yang ada detiknya.
# Lamanya 45 – 75 detik
# Kekuatan kontraksi : semakin lama akan bertambah kuat. Saat mulas, jika kita menekan dinding perut dengan telunjuk akan terasa perut mengeras.
# Interval kontraksi : akan bertambah sering, permulaan 10 menit sekali, kemudian menjadi 2 menit sekali.
# Pecahnya kantung ketuban
# Keluarnya bercak darah bukan petunjuk akurat ibu akan segera melahirkan. Namun ibu perlu waspada terhadap hal tersebut, jika perdarahan banyak, ibu perlu segera ke rumah sakit tanpa perlu menunggu hingga kontraksi yang terjadi mulai teratur dan bertambah kuat kekuatannya.

2.6  FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERSALINAN

Persalinan dapat berjalan normal (Eutosia) apabila ketiga faktor fisik 3 P dapat bekerja sama dengan baik. Dengan faktor 3 P kemungkinan dapat penyimpangan atau kelainan yang dapat mempengaruhi jalannya persalinan, sehingga memerlukan intervensi persalinan untuk mencapai kelahiran bayi yang baik dan ibu yang sehat, persalinan yang memerlukan bantuan dari luar karena terjadi penyimpangan 3 P disebut Persalinan Distocia.

Faktor-faktor tersebut adalah :

  1. 1. Power / kekuatan his dan mengejan

His :

    • Inertia uteri
    • Tetania uteri
    • His yang tidak terkoordinasi
    • Kelelahan ibu yang sedang mengejan
    • Salah pimpinan kala II

His (kekuatan kontraksi otot rahim)

His normal mempunyai sifat :

    • Kontraksi otot rahim mulai dari salah satu tanduk rahim
    • Fundal dominant, menjalar keseluruh otot rahim
    • Kekuatannya seperti memeras isi rahim
    • Otot rahim yang berkontraksi tidak kembali ke panjang semula sehingga terjadi retraksi dan pembentukan segmen bawah rahim

Kelainan kontraksi otot rahim

  1. Inertia Uteri

His yang sifatnya lemah, pendek dan jarang dari his yang normal yang terbagi menjadi :

Inertia uteri primer : apabila sejak semula kekuatannya sudah lemah

  1. Inertia uteri sekunder :
    • His pernah cukup kuat tapi kemudian melemah
    • Dapat ditegakkan dengan melakukan evaluasi pada pembukaan, bagian terendah terdapat kaput dan mungkin ketuban telah pecah

His yang lemah dapat menimbulkan bahaya terhadap ibu maupun janin sehingga memerlukan konsultasi atau merujuk penderita ke rumah sakit, puskesmas atau ke dokter spesialis.

2. Tetania uteri

His yang terlalu kuat dan terlalu sering, sehingga tidak terdapat kesempatan reaksi otot rahim. Akibat dari tetania uteri dapat terjadi :

  1. Persalinan Presipitatus

Persalinan yang berlangsung dalam waktu tiga jam. Akibat mungkin fatal :

    • Terjadi persalinan tidak pada tempatnya
    • Terjadi trauma janin, karena tidak terdapat persiapan dalam persalinan
    • Trauma jalan lahir ibu yang luas dan menimbulkan perdarahan, inversio uteri
  • Tetania uteri menyebabkan asfiksia intra uterin sampai kematian janin dalam rahim

3. Inkoordinasi otot rahim

Keadaan Inkoordinasi kontraksi otot rahim dapat menyebabkan sulitnya kekuatan otot rahim untuk dapat meningkatkan pembukaan atau pengeluaran janin dari dalam rahim.

Penyebab inkoordinasi kontraksi otot rahim adalah :

  • Faktor usia penderita relatif tua
  • Pimpinan persalinan
  • Karena induksi persalinan dengan oksitosin
  • Rasa takut dan cemas

Power adalah kekuatan his atau kontraksi dan kekuatan mengejan ibu yang sangat penting dalam proses persalinan.

  1. 2. Passage atau  jalan lahir

Jalan lahir : Jalan lahir tulang atau jalan lahir lunak.

Proses persalinan merupakan proses mekanis yang melibatkan tiga faktor yaitu : jalan lahir, kekuatan yang mendorong dan akhirnya janin yang didorong dalam satu mekanis tertentu dan terpadu. Dari ketiga komponen tersebut hanya kekuatan (his dan mengejan) yang dapat dimanipulasi dari luar tanpa membahayakan janin dalam proses persalinan.

Terdiri dari :

  1. Bagian Keras : tulang dan sendi
  2. Bagian lunak : otot, jaringan dan ligamen

Tulang dan Sendi

Tulang panggul terdiri dari :

  1. os coxae (os ilium, os ischium dan os pubis)
  2. os sacrum
  3. os coccygis.

Sedangkan sendi (artikulasio) terdiri dari :

  1. 2 buah artikulasio sacroiliaca : menghubungkan os sacrum dan os ilium
  2. 1 buah artikulasio sacro coccygea : menghubungkan os sacrum dan os coccygis
  3. 1 buah symphisis pubis : menghubungkan 2 tulang symphisis

Bidang/pintu panggul :

  1. Pintu Atas Panggul (PAP) : promontorium, linea inominata dan pinggir atas symphisis. Disebut juga inlet.
  2. Ruang tengah panggul (RTP) : kira – kira pada spina ischiadica. Disebut juga midlet.
  3. Pintu Bawah Panggul (PBP) : symphisis dan arcus pubis. Disebut juga outlet.

Ukuran – ukuran Panggul :
PAP :

  1. Konjugata diagonalis :pinggir bawah symphisis pubis ke promontorium :12,5 cm
  2. Konjugata vera : pinggir atas symphisis pubis ke promontorium : konjugata diagonalis – 1,5 cm = 11 cm
  3. Konjugata transversa : antar dua linea innominata : 12 cm
  4. Konjugata obliqua : 13 cm

RTP :

  1. Bidang luas panggul : pertengahan symphisis ke pertemuan os sacrum 2 dan 3. Sekitar 12,75 x 12,5 cm. Dalam persalinan tidak mengalami kesukaran.
  2. Bidang sempit panggul : tepi bawah symphisis menuju spina ischiadica. Sekitar 11,5 x 11 cm.
  3. Jarak kedua spina 10 – 11 cm.

PBP :

  1. Anterior posterior : pinggir bawah symphisis ke os coccygis : 10 – 11 cm.
  2. Melintang : 10,5 cm.
  3. Arcus pubis : lebih dari 90 derajat

Bidang Hodge

Hodge I : dibentuk pada lingkaran PAP dengan bagian atas symphisis dan promontorium
Hodge II : sejajar dengan Hodge I setinggi pinggir bawah symphisis.
Hodge III : sejajar Hodge I dan II setinggi spina ischiadika kanan dan kiri.
Hodge IV : sejajar Hodge I, II dan III setinggi os coccygis

Jenis – Jenis Panggul

  1. Ginekoid : panggul perempuan, diameter anteroposterior sama dengan diameter transversa
  2. Android : panggul pria, PAP segitiga, diameter transversa dekat dengan sacrum.
  3. Antropoid : PAP lonjong seperti telur, diameter anteroposterior lebih besar daripada diameter transversa.
  4. Platipelloid : diameter transversa lebih besar daripada diameter anteroposterior.

I. Bagian keras yang dibentuk oleh empat buah tulang:
• 2 tulang pangkal paha (os coxae)
• 1 tulang kelangkang (os sacrum)
• 1 tulang tungging (os coccygis)
II. Bagian lunak: diafragma pelvis, dibentuk oleh:
1. Pars muskularis levator ani, yang terdiri dari:
• Muskulus pubococcygeus dari os pubis ke septum anococcygeum
• Muskulus iliococcygeus, dari arkus tendineus muskulus levator ani ke os coccygis dan septum anococcysigeum
• Muskulus ischiococcygeus dari spina ischiadica ke pinggir os sacrum dan os coccygis.
2. Pars membranasea
a. Hiatus urogenitalis
• Terletak antara kedua muskulus pubococcygeus.
• Berbentuk segitiga.
b. Diafragma urogenitalis
• Menutupi hiatus urogenitalis.
• Di bagian depannya ditembus oleh uretra dan vagina.

3. Regio perineum
Merupakan bagian permukaan pintu bawah panggul terbagi menjadi:
a. Bagian anal: (sebelah belakang)
Terdapat muskulus sfingter ani eksternum yang mengelilingi anus dan liang senggama bagian bawah.
b. Regio urogenitalis

Terdapat muskulus ischiokavernosus dan muskulus transversus perinei su¬perfisialis.

III. Panggul kecil (pelvis minor)
Panggul kecil dalam ilmu kebidanan mempunyai arti yang penting karena merupa¬kan tempat alat reproduksi wanita dam membentuk jalan lahir. Jalan lahir berbentuk corong dengan luas bidang yang berbeda-beda sehingga dapat menentukan posisi dan letak bagian terendah janin yang melalui jalan lahir itu.
Ciri-ciri khas jalan lahir adalah sebagai berikut:
1. Terdiri dari empat bidang:
a. Pintu atas panggul
b. Bidang terluas panggul
c. Bidang tersempit panggul d. Pintu bawah panggul
2. Jalan lahir merupakan corong yang melengkung ke depan dengan sifat:
• Jalan lahir depan panjangnya 4,5.cm.
• Jalan lahir belakang panjangnya 12,5 cm.
• Pintu atas panggul menjadi pintu bawah panggul seolah-olah berputar 90°.
• Bidang putar pintu atas panggul menjadi pintu bawah panggul terjadi pada bidang tersempit.
• Pintu bawah panggul bukan merupakan satu bidang, tetapi dua segitiga de¬ngan dasar pada:
Segitiga belakang pangkal (dasar) pada tuber ossis ischii clan ujung bela¬kangnya os sacrum (tulang belakang).
Segitiga depannya dengan ujung (puncak) pada simfisis pubis.

  • Pintu atas panggul (PAP)
    Pintu atas panggul merupakan bulatan oval dengan panjang ke samping clan dibatasi oleh:
    • Promontorium
    • Sayap os sacrum
    • Linia terminalis kanan clan kiri
    • Ramus superior ossis pubis kanan clan kiri
    • Pinggir atas simfisis pubis
    Pada pintu atas panggul (PAP) ditentukan tiga ukuran penting, yaitu ukuran muka belakang (konyugata vera), ukuram lintang (diameter transversa), clan ukuran serong (diameter obliqua).
    • Konyugata vera
    Panjangnya sekitar 11 cm, tidak dapat diukur secara langsung, tetapi ukurannya diperhitungkan melalui pengukuran konyugata diagonalis. Panjang konyugata diagonalis antara promontorium clan tepi bawah simfisis pubis. Konyugata vera (CV): CD-1,5 cm. Konyugata obstetrika: ukuran antara promontorium dengan tonjolan simpisis pubis.
  • Pintu atas panggul dengan distansia transversalis kanan kiri lebih panjang dari pada muka-belakang
  • Mempunyai bidang tersempit pada spina ischiadica
  • Ukuran-ukurannya adalah :

Distancia Cristarum 28 cm

Distancia Spinarum 25 cm

Conjungata Vera 11 cm

Distancia transversum 13 cm

Distancia Oblique 12 cm

  • Pintu atas panggul menjadi pintu bawah panggul, seolah-olah berputar sembilan puluh derajat
  • Pintu bawah panggul terdiri dari dua segitiga dengan dasar yang sama pada tuber ischii, kedepan dengan ujung symphisis pubis, kebelakang ujung sacrum
  • Jalan lahir depan panjang 4,5 cm sedangkan jalan lahirnya kebelakang panjangnya 12,5 cm
  • Secara keseluruhan jalan lahir merupakan corong yang melengkung kedepan mempunyai bidang sempit pada spina ischiadika, terjadi perubahan pintu atas panggul lebar kanan kiri menjadi pintu bawah panggul dengan lebar kedepan dan kebelakang yang terdiri dari dua segitiga.

2.a Ukuran panggul
Ukuran panggul penting diketahui terutama pada kehamilan pertama, sehingga ra¬malan terhadap jalannya persalinan dapat ditentukan. Ukuran panggul luar tidak ba¬nyak artinya, untuk kepentingan ramalan persalinan, clan ditetapkan melalui peme¬riksaan:
• Secara klinis dilakukan dengan pemeriksaan dalam
• Rontgen abdomen dan pelvis
• Ultrasonografi.
Pemeriksaan foto rontgen panggul sudah lama ditinggalkan karma dapat mem¬bahayakan janin sehingga pemeriksaan dalam menjadi lebih penting untuk menen¬tukan persalinan.
Ukuran panggul secara klinis:
1. Ukuran pintu atas panggul
Ukuran pintu alas panggul yang utama adalah konyugata vera, yang dapat diukur secara tidak langsung. Dengan pemeriksaan dalam, dapat diukur panjang konyugata diagonalis sehingga konyugata vera = CD – 1,5 cm. Pada panggul nor¬mal promontorium tidak teraba. Bila ukuran CV di alas 10 cm dianggap panggul dalam Batas normal.
2. Ukuran panggul tengah
Ditentukan dengan mengukur distansia interspinarum.
3. Ukuran pintu bawah panggul
Ditentukan dengan mengukur jarak tuber ossis iskium dari luar.

Dengan demikian jalan lahir tulang sangat menentukan proses persalinan apakah dapat berlangsung melalui jalan biasa atau melalui tindakan operasi dengan kekuatan dari luar. Yang perlu mendapat perhatian bidan didaerah pedesaan adalah kemungkinan ketidakseimbangan antara kepala dan jalan lahir dalam bentuk disproporsi sefalo pelvic.

Jalan lahir yang dimaksud adalah jalan lahir tulang dan jalan lahir lunak

yang dapat mempengaruhi jalannya persalinan.

2.b Otot dasar panggul

Otot dasar panggul terdiri dari diagfragma pelvis dan diagfragma urogenital. Diagfragma pelvis adalah otot dasar panggul bagian dalam yang terdiri dari otot levator ani, otot pubokoksigeus, iliokoksigeus, dan ischiokoksigeus. Sedangkan diafragma urogenetik dibentuk oleh aponeurosis otot transverses perinea profunda dan mabdor spincter ani eksternus. Fungsi dari otot-otot tersebut adalah levator ani untuk menahan rectum dan vagina turun ke bawah, otot spincter ani eksternus diperkuat oleh otot mabdor ani untuk menutup anus dan otot pubokavernosus untuk mengecilkan introitus vagina.

Otot – otot Dasar Panggul

Ligamen – Ligamen Penyangga Uterus

  1. Ligamentum Kardinale sinistrum dan dekstrum (Mackendrot) : Ligamen terpenting untuk mencegah uterus tidak turun. Jaringan ikat tebal serviks dan puncak vagina kearah lateral dinding pelvis.
  2. Ligamentum Sacro – uterina sinistrum dan dekstrum : Menahan uterus tidak banyak bergerak Melengkung dari bagian belakang serviks kiri dan kananmelalui dinding rektum kearah os sacrum kiri dan kanan.
  3. Ligamentum Rotundum sinistrum dan dekstrum (Round Ligament) : Ligamen yang menahan uterus dalam posisi antefleksi. Sudut fundus uterus kiri dan kanan ke inguinal kiri dan kanan.
  4. Ligamentum Latum sinistrum dan dekstrum (Broad Ligament) : Dari uterus kearah lateral.
  5. Ligamentum infundibulo pelvikum : Menahan tubafallopi. Dari infundibulum ke dinding pelvis.
  1. 3. Passanger (janin dan placenta)

3. a Janin

Selama janin dan placenta berada dalam rahim belum tentu pertumbuhannya normal, adanya kelainan genetik dan kebiasaan ibu yang buruk dapat menjadikan pertumbuhannya tidak normal antara lain :

  • Kelainan bentuk dan besar janin : anensefalus, hidrosefalus, janin makrosomia
  • Kelainan pada letak kepala : presentasi puncak, presentasi muka, presentasi dahi dan kelainan oksiput
  • Kelainan letak janin : letak sungsang, letak lintang, letak mengolak, presentasi rangkap ( kepala tangan, kepala kaki, kepala tali pusat )

Kepala janin (bayi) merupakan bagian penting dalam proses persalinan dan memiliki ciri sebagai berikut :

  • Bentuk kepala oval, sehingga setelah bagian besarnya lahir, maka bagian lainnya lebih mudah lahir
  • Persendian kepala terbentuk kogel, sehingga dapat digerakkan ke segala arah dan memberikan kemungkinan untuk melakukan putaran paksi dalam
  • Letak persendian kepala sedikit kebelakang, sehingga kepala melakukan fleksi untuk putaran paksi dalam

Setelah persalinan kepala, badan janin tidak akan mengalami kesulitan. Pada beberapa kasus dengan anak yang besar pada ibu dengan diabetes mellitus, terjadi kemungkinan kegagalan persalinan bahu. Persalinan bahu yang berat cukup berbahaya karena dapat terjadi asfiksia. Persendian leher yang masih lemah dapat merusak pusat-pusat vital janin yang berakibat fatal

Pada letak sungsang dengan mekanisme persalinan kepala dapat mengalami kesulitan karena persalinan kepala terbatas dengan waktu sekitar 8 menit dan tulang dasar kepala tidak mempunyai mekanisme moulase, yang dapat memperkecil volume tanpa merusak jaringan otak. Dengan demikian persalinan kepala dalam letak sungsang atau versi ekstraksi letak lintang harus dipertimbangkan agar tidak menimbulkan morbiditas yang lebih tinggi. Berbagai posisi kepala janin dalam kondisi defleksi dengan lingkaran yang melalui jalan lahir bertambah panjang sehingga menimbulkan persoalan baru. Kedudukan rangkap yang paling berbahaya adalah antara kepala dan tali pusat, sehingga makin turun kepala makin terjepit tali pusat, menyebabkan asfiksia sampai kematian janin dalam rahim.

Kelainan dari janin dan placenta yang bisa mempengaruhi proses persalinan adalah kelainan bentuk dan besar janin, kelainan pada letak kepala, kelainan letak janin.

Kelainan Bentuk dan Bobot Plasenta.
Bentuk plasenta yang normal ialah ceper dan bulat, dengan diameter 15 – 20 cm dan tebal 1,5 — 3 cm, berat kurang lebih 500 gram. Kadang-kadang ditemukan plasenta yang kecil pada wanita dengan tekanan darah diastolik 100 mm Hg seperti pada preeklampsia berat.

Plasenta yang besar dan berat ditemukan pada erythroblastosis foetalis dan sifilis sehingga perbandingan dengan bayi jadi 1 : 3. Di samping bentuk yang normal kita dapat menemukan berbagai variasi, misalnya plasenta terdiri dari dua bagian yang dipisahkan oleh selaput ketuban dan disebut plasenta bipartita, bilobata atau plasenta dupleks. Bila di samping plasenta yang besar ditemukan pula plasenta kecil disebut plasenta suksenturiata. Antara keduanya dihubungkan dengan pembuluh-pembuluh darah. Plasenta tambahan ini mungkin dapat tertinggal pada pelepasan plasenta dan menyebabkan perdarahan. Kita dapat menyangka adanya plasenta suksenturiata dengan memeriksa selaput janin. Bila terdapat lubang pada selaput janin dekat plasenta dan pada pinggir lubang tersebut ditemukan pembuluh-pembuluh darah yang terkoyak kita harus curiga akan adanya plasenta tambahan. Bila antara kedua plasenta tidak ditemukan pembuluh darah disebut plasenta spuria. Kelainan bentuk lain ialah plasenta membranasea, di mana plasenta itu tipis dan lebar, kadang-kadang menutupi seluruh ruangan kavum uteri.

Plasenta membranasea dapat menyebabkan perdarahan antepartum dan member kesulitan pada kala III karena plasenta itu tipis dan sukar terlepas. Plasenta sirkumualata adalah plasenta yang pada permukaan fetalis dekat pinggir terdapat cincin putih. Cincin ini menandakan pinggir plasenta, sedangkan jaringan di sebelah luarnya terdiri dari villi yang tumbuh ke samping di bawah desidua. Jadi bukan villus pancang. Diduga bahwa chorion frondosum terlalu kecil dan untuk mencukupi kebutuhan, villi menyerbu ke dalam desidua di luar permukaan frondosuin, plasenta jenis ini tidak jarang terjadi. Insidensinya lebih kurang 2 – 18%. Beberapa ahli mengatakan bahwa plasenta sirkumvalata sering menyebabkan abortus dan solutio plasenta. Bila cincin putih ini letaknya dekat sekali ke pinggir plasenta, disebut plasenta marginata. Kedua-duanya disebut sebagai plasenta ekstrakorial. Pada plasenta marginata mungkin terjadi adeksi dari selaput sehingga plasenta lahir telanjang. Tertinggalnya selaput ini dapat menyebabkan perdarahan dan infeksi. Diagnosis plasenta sirkumvalata baru dapat ditegakkan setelah plasenta lahir, tetapi dapat diduga bila ada perdarahan intermiten atau hidrorea.

Kelainan implantasi

Plasenta biasanya melekat pada dinding belakang atau depan rahim dekat fundus. / Jonjot-jonjot menyerbu ke dalam dinding rahim hanya sampai lapisan atas dari stratum spongiosum. Kalau implantasinya rendah, yaitu di segmen bawah rahim dan menutup sebagian atau seluruh ostium internum maka disebut sebagai plasenta previa (prae=depan, vias=jalan), jadi artinya di depan jalan lahir atau menutup jalan lahir. Kalau jonjot-jonjot tersebut menyerbu ke dalam dinding rahim lebih dari batas, maka disebut plasenta ukreta. Menurut dalamnya penetrasi dinding rahim, plasenta akreta dibagi dalam: Plasenta akreta, jonjot menembus desidua sampai berhubungan dengan miometnum; Plasenta inkreta, jonjot sampai ke dalam lapisan miometrium; flasenta perkreta, jonjot-jonjot menembus miometrium sehingga mencapai perimetrium. Plasenta akreta ada yang komplit di mana seluruh permukaan plasenta melekat dengan erat kepada dinding rahim dan ada juga yang persial, di mana perlekatan hanya terjadi di beberapa tempat saja.

Plasenta akreta dapat menimbulkan penyulit pada kala III, karena sukar dilepaskan dan waktu melakukan tindakan pelepasan secara manual harus hati-hati, karena dapat. menyebabkan perforasi.

informed consent dan informed choise

Contoh Inform Consent:

SURAT PERSETUJUAN/PENOLAKAN MEDIS KHUSUS

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama   :                       (L/P)

Umur/Tgl Lahir :

Alamat :

Telp :

Menyatakan dengan sesungguhnya dari saya sendiri/*sebagai orang tua/*suami/*istri/*anak/*wali dari :

Nama  :                        (L/P)

Umur/Tgl Lahir

Dengan ini menyatakan SETUJU/MENOLAK untuk dilakukan Tindakan Medis berupa…………………………………………………………………………….

Dari penjelasan yang diberikan, telah saya mengerti segala hal yang berhubungan dengan penyakit tersebut, serta tindakan medis yang akan dilakukan dan kemungkinana pasca tindakan yang dapat terjadi sesuai penjelasan yang diberikan.

Jakarta,………………….20……

Dokter/Pelaksana,                                                        Yang membuat pernyataan,

Ttd                                                                                           ttd

(……………………)                                                  (…………………………..)

*Coret yang tidak  perlu

INFORMED CONSENT

Informasi dalam lingkup medis, ternyata sangat penting. Meski tidak semua pasien menghendaki penjelasan yang sejelas-jelasnya, akurat dan lengkap tahap demi tahap perawatan, tapi langkah penjelasan untuk era saat ini justru diharuskan.

Bagi pasien yang menolak penjelasan bisa diminta untuk menandatangani surat penolakan penjelasan perawatan, namun dokter atau dokter gigi tetap memberi kesempatan bila suatu saat pasien berubah pendapat.

Kenapa hal ini begitu penting? Sebab tidak semua kejadian dalam pengobatan berlangsung exactly just the way we want to. Dunia kedokteran tidak 2+2=4. Tidak ada kepastian dan garansi dalam dunia kedokteran karena setiap kasus bagaikan teori permutasi kombinasi. Latar belakang setiap orang berbeda, latar belakang kesehatan berbeda, derajat pengobatan yang diberikan berbeda, reaksi tubuh terhadap sesuatu berbeda.

Jadi manalah mungkin seorang dokter dan dokter gigi yang juga manusia dapat memenuhi dengan sempurna seluruh kriteria kasus yang ada, sedangkan setiap orang sudah pasti having their own limit.

Oleh karena itu selain untuk menjaga kemungkinan ‘terlantar’nya pasien oleh dokter atau dokter gigi yang mempunyai pasien banyak, atau ‘terlantar’nya dokter atau dokter gigi karena harus menghadapi tuntutan hanya karena tidak mengkomunikasikan kemungkinan penyakit maka dibuatlah suatu surat perjanjian hitam di atas putih. Ini yang disebut sebagai inform consent.

Seperti apakah surat inform consent itu?

Intinya inform consent merupakan surat yang menyatakan bahwa pasien diberitahu perihal penyakit yang dideritanya, kerugian maupun keuntungan dari alternatif perawatan dan pengobatan yang akan diberikan, penjelasan mengenai biaya yang harus dibayar dan pilihan-pilihan lain yang memungkinkan untuk mengatasi penyakitnya.

Jadi pada dasarnya semua pasien berhak mendapatkan penjelasan sejelas-jelasnya dari dokter dan dokter gigi yang merawat, langsung dari dokternya atau dari brosur yang dokter dan dokter gigi berikan. Pertanyaan bisa diajukan untuk melengkapi hal-hal yang belum jelas, atau bisa diberi penjelasan tambahan oleh asisten atau perawat dokter dan dokter gigi.

Perawatan apa saja yang butuh inform consent?

Semua perawatan yang membutuhkan tindakan, bisa dimintakan inform consent. Contohnya dalam kedokteran gigi Perawatan Saluran Akar atau Pencabutan Gigi. Dalam perawatan gigi anak, yang menandatangani surat persetujuan adalah orang tua atau wali.

Informed Consent
Informed consent adalah :

Bukti tertulis tentang persetujuan terhadap prosedur klinik suatu metode kontrasepsi yang akan dilakukan pada klien.

Harus ditandatangani oleh klien sendiri atau walinya apabila akibat kondisi tertentu klien tidak dapat melakukan hal tersebut.

Persetujuan diminta apabila prosedur klinik mengandung risiko terhadap keselamatan klien (baik yang terduga atau tak terduga sebelumnya).

Persetujuan tindakan medik (Informed Consent) berisi tentang kebutuhan reproduksi klien, informed choice, dan prosedur klinik yang akan dilakukan; ada penjelasan tentang risiko dalam melakukan prosedur klinik tersebut; standar prosedur yang akan dilakukan dan upaya untuk menghindarkan risiko; klien menyatakan mengerti tentang semua informasi tersebut diatas dan secara sadar memberikan persetujuannya.

Informed consent juga dilakukan pada pasangannya dengan alasan sebagai berikut :

Aspek hukum, hanya saksi yang mengetahui bahwa pasangannya secara sadar telah memberikan persetujuan terhadap tindakan medik.

Suami tidak dapat menggantikan posisi istrinya untuk memberikan persetujuan (atau sebaliknya) kecuali pada kondisi khusus / tertentu.

Secara kultural (Indonesia) suami selalu menjadi penentu dalam memberikan persetujuan tetapi secara hukum, hal tersebut hanya merupakan persetujuan terhadap konsekuensi biaya dan pemahaman risiko (yang telah dijelaskan sebelumnya) yang mungkin timbul dari prosedur klinik yang akan dilakukan.

a. Informed choise sebagai pencegahan konflik etik
Dalam pencegahan konflik etik dikenal ada empat butir yang urutannya adalah sebagai bertikut :
1 Informed consent
Disini informed consen merupakan suatu dialok antara bidan dengan pasien yang didasari keterbukaan dan pikiran dengan suatu penandatanganan formulir.
2 Negoisasi
Berlangsungnya tawar menawar dengan jalan berunding untuk menbangun atau menerima guna mencapai kesepakatan bersama antara satu pihak atau lebih. Dalam pihak ini kesepakatan yang ingin dicapai adalah antara bidan dengan klien atau walinya.
3 Persuasi
Ajakan yang diberikan bidan kepada seorang klien dengan cara memberikan alasan yang meyakinkan klien tersebut.
4 Komite etik
Sekelompok orang yang diberikan tugas tertentu. Segala keputusan yang diawali tidak bisa hanya oleh satu individuan saja tetapi harus berdasarkan organisasi yang dia miliki. Misalnya bidan mempunyai suatu organisasi yaitu IBI. Informed choise merupakan butir yang paling penting kalau informed consent gagal maka butir selanjutnya baru dipergunakan secara berurutan sesuai dengan kebutuhan.
b. Dimensi Informed consent
Dalam proses informed consent terdapat dua dimensi yang tercakup didalamnya, yaitu:
1 Dimensi yang menyangkut hukum
Dalam hal ini inforcement consent merupakan perlindungan bagi ps terhadap bidan yang berprilaki memaksakan kehendak. Proses informed choise sudah memuat:
a. Keterbukaan informasi dari bidan terhadap pasien
b. Informasi tersebut harus dimengerti pasien
c. Memberikan kesempatan kepada pasien untum memberikan kesempatan yang terbaik
2 Dimensi yang menyangkut etik.
Dari proses informed consent terkandung nilai – nilai etik sebagai berikut:
a. Menghargai kemandirian / ototnomi pasien
b. Tidak melakukan intervensi melainkan membantu pasien bila dibutuhkan atau diminati sesuai dari informasi yang telah diberikan
c. Bidan menggali keingginan pasien baik yang dirasakan secara subjektif maupun sebagai hasil pemikiran yang rasional.

INFORMED CHOICE


• Pengertian
Informed choice berarti membuat pilihan setelah mendapatkan penjelasan tentang alternatif asuhan yang akan dialaminya. Pilihan (choice) dari persetujuan (consen) perrsetujuan penting dari sudut pandang Bidan, karena itu berhubungan dengan aspek hukum yang memberikan otoritas untuk semua prosedure yang akan diberikan oleh Bidan. Sedangkan pilihan (choice) lebih penting dari sudut pandang wanita ( sebagai konsumen penerima jasa asuhan kebidanan ) yang memberikan pemahaman masalah yang sesungguhnya ini adalah aspek etika dalam hubungan dengan otonomi pribadi berarti menentukan sendiri
Hak dan keinginan wanita harus dihormati. Tujuanya adalah untuk mendorong wanita memilih asuhanya. Peran bidan tidak hanya membuat keputusan dalam manajemen asuhan kebidanan tetapi juga menjamin bahwa hak wanita untuk memilih asuhanya dan keinginan terpenuhi. Ini sesuai dengan Kode Etik Internasional Bidan yang dinyatakan oleh ICM 1993 “Bidan harus menghormati hak wanita setelah mendapatkan penjelasan dan mendorong wanita untuk menerima tanggungjawab untuk hasil dari pilihanya”.
Informed (mendapatkan penjelasan) disini maksudnya “informasi yang lengkapsudah diberikan dan dimengerti oleh wanita itu menyangkut risiko, manfaat, keuntungan, hasil yang mungkin dapat diharapkan dari setiap pilihanya”.
Choice (pilihan) berarti ada alternatif lain, dan dari satu pilihan dan wanita itu mengeri perbedaannya, sehingga dia dapat menentukan mana yang disukai atau sesuai da kebutuhannya. Dari riwayat yang sudah lama belangsung, petugas kesehatan termasuk bidan sungkan untuk membagikan informasi maupun
membuat keputusan bersama klien. Ini bertentangan dengan aspek hukum dan untuk sikap profesionalisme yang wajib dan bersusah payah untuk menjelaskan kepada klien semua kemungkinan pilihan tindakan dan hasil yang diharapkan dari setiap pilihan.
Dinegara manapun ada hambatan dalam memberdayakan wanita mengenai pelaksanaan informed choice ini, misalnya sangat kurang informasi yang diperoleh ketika wanita mulai hamil dan ada prasangka bahwa wanita sendiri enggan mengambil tanggung jawab untuk membuat keputusan yang sulit dalam kehamilan maupun persalinan. Dari hasil penelitian yang prnah dilakukan menunjukkan bahwa wanita ingin membuat pilihan atau informasi yang lengkap agar wanita dapat membuat keputusan, tetapi untuk sebagian besar masih sulit karena berbagai alasan, misalnya alasan sosial ekonomi, kurangnya pendidikan dan masalah kesetan, kesulitan bahasa dan pemahaman sistem kesehatan yang tersedia.
• Rekomendasi
1. Bidan harus terus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam berbagai aspek kehidupan dapat membuat klinis secara teoritis agar dapat memberikan pelayanan yang aman dan memuaskan kliennya.
2. Bidan wajib memberikan informasi secara rinci dan jujur dalam bentuk dapat oleh siwanita dengan menggunakan media altematif dan penterjemah kalau perlu, begitu juga tatap muka langsung.
3. Bidan dan petugas ks lain perlu belajar untuk membantu wanita melatih diri dalam menggunakan haknya dan menerima tanggung jawab untuk keputusan yang mereka ambil sendiri. Ini tidak hanya dapat diterima secara etika tetapi juga melegakan para persona; kesehatan. Memberikan jaminan bahwa wanita itu sudah diberikan informasi yang lengkap tentang implikasi dari keputusan mereka telah memenuhi tanggung jawab moral mereka
4. Dengam memfokuskan asuhan yang berpusat pada wanita dan berdasarkan fakta, diharapkan bahwa konflik dapat ditekan serendah mungkin kompetensinya dalan memberikan pelayanan yang aman. Apabila ada pertentangan maka pertimbangan keamanan bagi ibu, janin dan sipenolong haras rnenjadi prioritas, dan diadakan negoisasi secara terbuka.
5. Tidak perlu takut akan konflik tetapi menganggapnya sebagai suatu kesempatan untuk saling memberi dan mungkin suatu penilaian ulang yang objektif, bermitrapda wanita dan sistem asuhan dan suatu tekanan positif terhadap perubahan
• Bentuk asuhan yang ada dalam asuhan kebidanan
Ada beberapa jenis pelayanan kebidanan yang dapat dipilih oleh oasien, antara lain:
1 Gaya bentuk pemeriksaan antenatal dan pemeriksaan laboratorium / screenting antenatal
2 Tempat melahirkan (rumah, polindes, RB, RSB, atau RS), dan kelas perawatan di RS.
3 Masuk kamar bersalin pada tahap awal persalinan
4 Pendampingan waktu melahirkan
5 Klisma dan cukur daerah pubis
6 metode monitor denyut jantung janin.
7 Percepatan persalinan/augmentasi
8 Diet selama proses persalinan
9 Mobilisasi selama proses persalinan
10 Pemakaian obat penghilang sakit
11 Pemecahan ketuban secara rutin
12 Posisi ketika melahirkan
13 Episiotomi
14 Penolong persalinan
15 keterlibatan suami waktu bersalin/kelahiran, misalnya pemotongan tali pusat.
16 Cara memberikan minuman bayi
17 Metode pengontrolan kesuburan
Semua di tentukan bidan atas nama atau dengan alasan demi kepentingan pasien. Dalam memberikan pelayanan kebidanan, Bidan harus mengukur

tetanus neonatorium

TETANUS NEONATORUM

2.1.1    Definisi

Penyakit tetanusneonatorum adalah penyakit yang terjadi pada bayi neonates(bayi berusia kurang dari 1 bulan) yang di sebabkan oleh clostridium tetani.(YBP-SP 2006;388).

2.1.2 Penyebab

Penyebab penyakit ini adalah Clostridiun tetani,kuman ini bersifat anaerobic dan mengeluarkan eksotoksin yang neourotopik yang masuk melalui tali pusat sewaktu proses pertolongan persalinan. Spora yang masuk disebabkan oleh proses pertolongan persalinan yang tidak steril, baik oleh penggunaan alat yang telah terkontaminasi dengan spora Clostridium tetani, maupun penggunaan obat-obatan untuk tali pusat yang juga telah terkontaminasi. Kebiasaan menggunakan alat pertolongan persalinan dan obat tradisionil yang tidak steril, merupakan faktor yang utama dalam terjadinya Tetanus neonatorum.

2.1.3 Epidemiologi

Clostridium tetani berbentuk batang langsing, tidak berkapsul, gram positip. Dapat bergerak dan membentuk sporaspora, terminal yang menyerupai tongkat penabuh genderang (drum stick). Spora spora tersebut kebal terhadap berbagai bahan dan keadaan yang merugikan termasuk perebusan, tetapi dapat dihancurkan jika dipanaskan dengan otoklaf. Kuman ini dapat hidup bertahun-tahun di dalam tanah, asalkan tidak terpapar sinar matahari, selain dapat ditemukan pula dalam debu, tanah, air laut, air tawar dan traktus digestivus manusia serta hewan.

Clostridium tetani terdapat di tanah dan traktus digestivus manusia serta hewan.kuman ini dapat membuat spora yang tahan lama dan berkembang biak dalam luka kotor atau jaringan nekrotik yang mempunyai suasana aerobic.Pada bayi penyakit ini di tularkan biasanya melalui talipusat,yaitu karena pemotongan talipusat dengan alat yang tidak steril.selain itu infeksi dapat juga melalui pemakaian oba,bubuk atau daun-daun yang di gunakan dalam perawatan talipusat.

Penyakit ini masih banyak terdapat di Indonesia dan Negara-negara lain yang sedang berkembang.mortalitasnya sangat tinggi karena biasanya baru mendapat pertolongan bila keadaan bayi sudah gawat.Penanganan yang sempurna memegang peranan yang penting dalam menurunkan angka mortalitas.

2.1.4 Patologi

Kelainan patologik biasanya terdapat pada otak,pada sumsum tulang belakang dan terutama pada nucleus motorik.kematian di sebabkan oleh asfiksia akibat spasmus laring pada kejang yang lama.Selain itu kematian dapat terjadi akibat pengaruh langsung pada pusat pernafasan dan peredaran darah.sebab kematian yang lain adalah peunomnia aspirasi dan sepsis.

2.1.5 Gambaran Klinik

Masa inkubasi berkisar antara 3-14 hari, tapi bias lebih pendek ataupun lebih panjang. Berat ringannya penyakit juga tergantung pada lamanya masa inkubasi, makin pendek masa inkubasi biasanya prognosa makin jelek.

Gejala permulaan adalah kesulitan minum karena terjadinya trismus.Mulut mencucu seperti ikan(karpermond)sehingga bayi tidak minum dengan baik.Kemudian ,dapat terjadi spasmus otot yang luas dan kejang umum.leher menjadi kaku dan dapat terjadi opistotonus.dinding abdomen kaku mengeras dan kalau tyerdapat kejang otot pernafasan,dapat terjadi sianosis , suhu dapat meningkat ,naiknya suhu ini mempunyai prognosis yang tidak baik.

2.1.6 Diagnosa

Diagnosa tetanusneo natorum biasanya dapat ditegakkan berdasarkan pemeriksaan klinis.

Gejala klinik yang karakteristik berupa:

  1. Malas minum, mudah terangsang dan anak menangis terus menerus.
  2. Tidak sanggup mengisap dan belakangan bayi berhenti menangis karena rahang sukar dibuka disebabkan terjadinya kekakuan.
  3. Kemudian diikuti kekakuan pada seluruh tubuh disertai kejang yang tersentak [intermittent jerking spasm], terutama hal Individu yang imun tetapi sensitive terhadap bahan toxin akan menimbulkan reaks iterhadap keduanya, toxin dan toxoid. Reaksi kulit yang terjadi umumnya maksimal pacta 48- 72 jam, dan kemudian mulai menyusut dan menghilang. Ini berbeda bila hasil Schick test positif, dimana reaksi ini akan menetap sampai beberapa hari. Bila individu tidak mempunyaI anti toxin di dalam serumnya, tetapi ia alergi terhadap toxoid, reaksi akan dijumpai pacta kedua belah tangan, tetapi reaksi pada sebelah tangan yang mendapat suntikan toxin akan mencapai puncaknya pada hari ke-5 dan menetap, sedang reaksi terhadap toxoid akan berkurang pada hari ke 5-7. Schick test dikatakan positif bila dijumpai indurasi yang diameterny sebesar 10mm atau lebih. Bila test dilakukan tanpa menggunakan kontrol, pembacaan dilakukan setelah 5×24 jam setelah suntikan dilakukan. Ini dilakukan untuk menghindari pseudoreaksi yang timbul, yang biasanya akan sudah menghilang pada hari ke-3 atau ke-4.

Kriteria penilaian

  • Reaksi positif, bila dijumpai indurasi berwarna merah kecoklatan yang kadang disertai nekrosis jaringan dengan diameter lebih besar atau sama dengan 10mm.
  • Reaksi negatif, bila tidak dijumpai keadaan di atas, berarti anak mempunyai daya lindung terhadap difteri. Ini terjadi bila ada rangsangan dari luar seperti suara yang keras, cahaya dan tactile stimuli antara lain bila dipegang, pada pemberian injeksi untuk pengobatan dan pada waktu melakukan pengisapan lendir.
  • Mulut mencucur, dan bila bayi menangis suaranya tangisan tidak jelas, terdengar seperti mendesis
  • Diagnostik test yang sering digunakan adalah reflex spasm dari dinding perut yang dapat dilakukan dengan melakukan palpasi abdomen dan sebagai akibatnya akan timbul kejang dan kekakuan dinding perut.

Prognosa tetanus neonatorum adalah jelek bila:

1. Umur bayi kurang dari 7 hari

2. Masa inkubasi 7 hari atau kurang

3. periode timbulnya gejala kurang dari 48 jam

4.Dijumpai muscular spasm

2.1.7    Penanggulangan

  1. Perawatan umum

A.Tindakan pertama pada saat penderita masuk ke rumah sakit

B.Mengatasi kejang

  • Kejang dapat di atasi dengan mengurangi rangsangan atau pemberian obat anti kejang.obat yang di pakai adalah kombinasi fenobarbital dan largaktil.fenobarbital dapat di berikan mula-mula 30-60 mg perentral,kemudian di lanjutkan per os dengan dosis maksimum 10mg per hari.largaktil dapat di berikan bersama luminal,mula-mula 7,5 mg parental,kemudian di teruskan dengan dosis 6 x 2,5 mg/hari.kombinasi lain adalah luminal dan diazepam dan dosis ½ mg/kg berat badan.Obat anti kejang yang lain adalah kloralhidrat yang di berikan lewat rtektum.
  • Atasi kejang dengan pemberian anti-convulsan, seperti diazepam dengan dosis 2 -10 mg I.V. ataupun secara I.M.
  • Bila kejang sudah teratasi pasang nasa-gastric tube dan beri cairan intra-vena Dextrose-NaCl untuk mengatasi kebutuhan cairan dan elektrolit, dan juga untuk jalan pemberian obat.
  • Kalau memungkinkan hindari pemberian obat secara I.M. karena ini akan merangsang terjadinya muscular spasm.

C. Perawatan

  1. Tempatkan bayi dalam incubator untuk menghindari rangsangan dari luar
  2. Usahakan agar temperature ruangan tetap
  3. Observasi dilakukan dengan mengurangi sekecil mungkin terjadinya rangsangan.
  4. Catat dan awasi denyut jantung, pols, pernafasan, temperature bayi dan

temperature inkubator, frekwensi dan beratnya muscular spasm.

  1. Bersihkan mulut, nasofaring dari sekresi cairan yang menumpuk dengan cara melakukan pengisapan lender secara berulang, teratur dan hati-hati.
  2. Catat pengeluaran kencing dan tinja, bila dijumpa igumpalan tinja, lakukan pengosongan dengan penggunaan “salineonema.
  3. Buat daftar cairan yang masuk dan keluar
  4. Lakukan perobahan posisi bayi setiap 2 jam
  5. Lakukan fisioterapi pada daerah dada secara hati-hati setiap 4 jam
  6. Gerakkan tangan dan kaki secara pasif
  7. Jangan lupa memberi zalfantibiotika pada mata

Catatan

Pada setiap tindakan yang dilakukan terhadap bayi yang dirawat dengan tetanus neonatorum harus dilakukan dengan seksama dan hati-hati, oleh karena semua tindakan ini dapat merangsang terjadinya spasme dan kejang.

D. Perawatan Tali Pusat

ü  Bila tali pusat masih ada bersihkan dengan hydrogen peroxide dan bila perlu dilakukan tindakan bedah.

II. Antibiotika, Tetanus Anti-Toxin dan Toxoida

A. Antibiotika

  • Crystalline penicillin diberikan dengan dosis 100.000 unit/ kg BB/ hari dibagi dalam 4 dosis dan diberikan secara intravena untuk selama 7 hari, atau bila  ini tidak ada dapat digunakan Penicllin procaine 100.000 unit/ kg BB/ hari, diberikan secara I.M. Bila dijumpai adanya komplikasi, broad spectrum anti biotika dapat ditambahkan pemakaian broad spectrum anti biotika ini harus segera dipikirkan, mengingat bahwa Tetanus neonatorum ini adalah termasuk penyakit yang berat [tetanus yang berat].

B. Pemberian Anti-Toxin

  • Pemberian anti-toxin bertujuan hanya untuk mengikat toxin yang masih beredar dalam darah, ataupun toxin yang belum terikat dengan kuat. A.T.S dengan dosis 10.000 units dapat diberikan secara I.V., ataupun dengan pemberian tetanus immuneglobulin 500 units secara I.M. berupa dosis tunggal.
  • Diazepam

Obat ini dapat diberikan melalui cairan infus secara kontinu atau bolus injection [ injeksi melalui selang infus ], yang dapat diberikan setiap 2-4 jam. pemberian berikutnya tergantung pada hasil evaluasi setelah pemberian anti-kejang. Diazepam melalui cairan infus secara kontinu tidak dianjurkan, oleh karena dosis diazepam yang digunakan harus di evaluasi secara seksama, untuk ini pemberian per-bolus lebih mudah untuk dievaluasi. Bila dosis optimum telah tercapai, dan kejang telah terkontrol,” maka jadwal pemberian diazepam yang tetap dan tepat baru dapat disusun.

Dosis diazepam pada saat dimulai pengobatan (setelah kejang terkontrol] adalah 20 mgjkg BBjhari, dibagi dalam 8 kali pemberian (pemberian dilakukan tiap 3 jam]. Kemudian dilakukan evaluasi terhadap kejang, bila kejang masih terus berlangsung dosis diazepam dapat dinaikkan secara bertahap sampai kejang dapat teratasi.

Dosis maksimum adalah 40 mg/kg BB/hari.

Dalam melakukan evaluasi terhadap pemberian diazepam dalam mengkontrol kejang harus diingat:

  • Jarak kejang yang timbul setelah pemberian diazepam perbolus.
  • Bila kejang terjadi sebelum saat pemberian diazepam
  • berikutnya [berdasarkan skedul sementara pemberian diazepam], maka kejang     yang terjadi harus diberantas sampai tuntas dan dosis yang digunakan pada pemberantasan kejang ini tidak diperhitungkan. Dosis maintenance dinaikkan 10-15% dari dosis sebelumnya, dan skedul sementara pemberian diazepam disusun kembali.
    • Pada saat permulaan, jarak pemberian diazepam dilakukan tiap 3 jam, dan dalam evaluasi perhatikan apakah kejang terjadi sebelum 2-3 jam setelah pemberian diazepam per I bolus, bila ini dijumpai, pemberian diazepam per-3 jam harus ditinjau, dan dipikirkan untuk memperpendek interval pemberian diazepam menjadi per 2 jam. 4. Dalam meningkatkan dosis diazepam dan memperpendek interval pemberian, harus diperhatikan efek samping yang mungkin timbul yaitu dperesi pernafasan, dan total dosis maintenance jangan melampaui 40 mg kg BB/hari
    • Bila dosis optimum dalam mengkontrol kejang telah didapat maka skedul pasti telah dapat dibuat, dan ini dipertahankan selama 2-3 hari, dan bila dalam evaluasi berikutnya tidak dijumpai adanya kejang, maka dosis diazepam dapat diturunkan secara bertahap, yaitu 10-15 % dari dosis optimum tersebut. Penurunan dosis diazepam tidak boleh secara drastis, oleh karena bila terjadi kejang, sangat sukar untuk diatasi dan penaikkan dosis ke dosis semula yang efektif belum tentu dapat mengkontrol kejang yang terjadi. Bila dengan penurunan bertahap dijumpai kejang, dosis harus segera dinaikkan kembali ke dosis semula. Sedang bila tidak terjadi kejang dosis dipertahankan selama 2-3 hari dan diturunkan lagi secara bertahap, hal ini dilakukan untuk selanjutnya.
    • Bila dalam penggunaan diazepam, kejang masih terjadi, sedang dosis maksimal telah tercapai, maka penggabungan dengan anti kejang lainnya harus dilakukan.
    • Efek samping berupa kama, kadang apnoea dapat terjadi dan ini reversible bila dosis diazepam diturunkan

Catatan:

Semua ini dapat dilakukan di bangsal anak, tetapi harus dengan pengawasan yang ketat, bila fasilitas memungkinkan sebaiknya kasus tetanus neonatorum dirawat di ruang intensif.

penggabungan dengan anti kejang lainnya harus dilakukan.

2.1.8 Pemberian makanan

ü  Empat puluh delapan jam pertama, kebutuhan cairan dan elektrolit sebaiknya diberikan secara Intra Venous, hal ini untuk menghindari resiko terjadinya aspirasi sebagai akibat dari gastro-intestinal ileus dan kejang yang tidak terkontrol.

ü   Pemberian ASI/susu buatan dapat dimulai sesudahnya dengan I menggunakan naso gastric tube.

ü  Kalau ad.B tidak dapat dilakukan, harus dipikirkan pemberian partial intravenous hyperalimentation yang mengandung Dextrose f 10%, amino acid, intra livid dan vitamin.

ü   Kontrol terhadap kejangPenyebab utama kematian pada Tetanus neonatorum adalah kejang klonik yang hebat, muscular dan laryngeal spasm beserta komplikasinya. Dengan penggunaan obat-obat sedasi/muscle relaxans, diharapkan kejang ini dapat diatasi.

2.1.9    Pencegahan

Pencegahan yang paling baik adalah pemotongan talipusat dan perawatan talipusat yang baik dan harus di gunakan bahan-bahan dan alat-alat yang steril.pemberian vaksinasi dan suntikan toksoid pada ibu hamil dalam triwulan terakhir dapat member proteksi pada bayi.

Tetanustoxoid harus diberikan ,karena penderita yang sembuh dari tetanus neonatorum tidak membentuk daya kebal terhadap tetanus [noconvertofimmunity],sehingga kemungkinan untuk mendapat infeksi dengan tetanus pada waktu mendatangakan tetap ada. Pada tetanus neonatorum pemberian tetanus toxoi dini sebaiknya diberikan setelah penderita sembuh dan di berikan pada saat bayi berumur 2 bulan atau lebih, bersamaan dengan pemberian imunisasi yang lain.  Berbeda dengan pemberian BCG, Polio dan hepatitis, dimana pemberian vaksin ini dapat diberikan sesudah bayi lahir, sedang untuk pemberian tetanus toxoid halini tidak dianjurkan sebelum bayi berusia diatas 6 mgg.

Adapun Pencegahan lainnya :

1. Pertolongan persalinan yang steril

2. Pendidikan kesehatan

3. Yang terpenting dan terbukti efektif dalam mencegah tetanus neonatorum adalah dengan pemberian imunisasi aktif pada ibu hamil ataupun pada wanita usia subur.

Pemberian imunisasi aktif untuk mencegah tetanus neonatorum.

1. Siapa yang harus diberikan imunisasi ?

-Setiap wanita hamil atau wanita usia subur yang belum pernah mendapat imunisasi tetanus toxoid.

2. Apa yang diberi ? .

-Tetanus toxoid 0,5 ml, I.M. diberikan minimal dua kali dengan interval 4-6 minggu dan pernberian III, 6-12 bulan sesudah pernberian yang kedua. Kalau ibu sedang hamil, sebaiknya pemberian terakhir adalah 6 minggu sebelum bayi dilahirkan, dengan tujuan agar pembentukan antibodi dalam tubuh si ibu lebih baik, sehingga transfer maternal antibodi ke janin akan lebih baik.

3. Kapan diadakan ulangan ?

-Ulangan dilakukan setiap 5 -10 tahun dengan pemberian tetanus toxoid 0,5 ml I.M. satu kali pemberian saja.

4. Apa keuntungannya ?

-Selain dapat mencegah bayi yang akan dilahirkan terhadap tetanus neonatorum, ibu juga dapat terhindar dari tetanus.

anak, tetapi harus dengan pengawasan yang ketat, bila fasilitas memungkinkan sebaiknya kasus tetanus neonatorum dirawat di ruang intensif. Pengalaman di Bangsal Anak R.S Dr. Pirngadi Medan selama 5 tahun menunjukkan keadan ini dapat dilaksanakan dibangsal anak, dengan angka kematian yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan periode sebelumnya.

BIDAN KU BIDAN KITA

learn from your mistake…

SENAM NIFAS

SENAM HAMIL

A. Pengertian Senam Hamil
Senam hamil adalah program kebugaran yang diperuntukan bagi Ibu hamil. Oleh karena itu senam hamil memiliki prinsip-prinsip gerakan khusus yang disesuaikan dengan kondisi ibu hamil. Latihan-latihan pada senam hamil di rancang khusus untuk menyehatkan dan membugarkan Ibu hamil, mengurangi keluhan yang timbul selama kehamilan, serta mempersiapkan fisik dan psikis Ibu dalam menghadapi persalinan. Tujuan dari program hamil adalah membantu Ibu hamil agar nyaman, aman dari sejak bayi dalam kandungan hingga lahir.
Dalam perkembangannya, senam hamil banyak menimbulkan kontroversi. Hal ini di sebabkan dalam kalangan masyarakat dahulu (dam mungkin masih ada sampai sekarang) yang terjebak mitos bahwa seorang Ibu hamil tidak boleh bekerja, tidak boleh banyak bepergian, tidak boleh makan ikan, dan masih banyak tidak boleh yang lain. Akan tetapi saat ini sudah banyak disadari senam hamil merupakan bagian penting dari perawatan kehamilan.
Saat menghadapi persalinan, umumnya Ibu-Ibu (baik yang belum maupun sudah berpengalaman melahirkan) di landa rasa lemas dan panic. Hal ini membuat otot-otot di jalan lahir dan sekitarnya, sehingga menghambat. Kelancaran proses persalinan lewat berbagai latihan dan penjelasan seputar persalinan dikelas senam hamil, diharapkan calon Ibu lebih percaya diri dan tak panic saat menghadapi persalinan.

B. Manfaat Senam
Barbara Hoistein dalam shaping up for a healthy pregnarcy menyebutkan manfaat senam hamil sebagai berikut :
– Memperbaiki sirkulasi
– Meningkatkan keseimbangan otot-otot
– Mengurangi bengkak-bengkak
– Mengurangi resiko gangguan gastrointestinal, termasuk sembelit
– Mengurangi kejang kaki
– Menguatkan otot perut
– Mempercepat penyembuhan setelah penyembuhan
Senam dapat mengurangi berbagai gangguan yang umumnya terjadi selama kehamilan seperti pemekaran pembuluh darah (varises), sakit pinggang, serta nyeri otot-otot & persendian. Meningkatkan stamina, yang sangat diperlukan selama persalinan & menguatkan serta mengencangkan otot-otot yang paling banyak dipengaruhi 01 K.) : otot peluis, otot perut & otot pinggang.
Program senam hamil yang baik juga dapat memperbaiki postur tesebuh karena pengaruh rahim & perut yang mengembang sehingga menyebabkan daerah peluis bergeser ke depan. Gerakan-gerakan senam untuk mengencangkan otot-otot pantat, punggung, bahu, perut akan menjaga penampilan anda tetap cantik & mengurangi kemungkinan berbagai gangguan akibat postur tubuh kurang sehat.

C. Tujuan Senam Hamil
Dengan mengacu pada sasaran utama senam hamil yaitu menyamankan kehamilan dengan mempermudah persalinan, maka program senam hamil ditujukan untuk :
1. Meningkatkan kebugaran tubuh secara keseluruhan
2. Menguatkan & merengangkan otot-otot tertentu terutama otot yang berperan untuk persalinan & mempertahankan postur.
3. Meningkatkan relaksasi tubuh terutama otot dasar panggul yang berperan besar dalam proses persalinan
4. Melatih teknik pernafasan yang sangat dibutuhkan untuk mengatasi rasa nyeri misalnya kala I maupun kala II.

Dengan tujuan diatas maka dapat dirumuskan komponen utama dalam senam hamil yaitu :
– Latihan kebugaran
– Latihan penguatan & perengangan
– Latihan relaksasi
– Latihan pernafasan

D. Kondisi Yang Membatalkan Senam

Jika anda menderita salah satu kondisi yang terdaftar dibawah ini, sebaiknya intensitas senam anda kurangi. Bahkan mungkin perawat medis anda akan menyatakan bahwa senam hamil terlalu riskan bagi anda. Jadi hentikan senam dan hubungi perawat medis secepatnya jika anda dinyatakan menderita salah satu kondisi-kondisi berikut selama hamil.
– Penyakit myocardial aktif (penyakit pada dinding jantung bagian dalam )
– Kelainan jantung
– Penyakit jantung rematik
– Thromboplebitus (radang otot dan gumpalan darah beku)
– Pulmonary embolism (gumpalan darah pada paru-paru)
– Isoimunisasi akut (misalnya : jika RH-negatif Ibu, antibody akan berkembang & merusak RH-positif pada sel darah bayi).
– Rentan terhadap kelahiran premature
– Pendarahan pada vagina/selaput membrane pecah
– Gangguan pada perkembangan rahim
– Adanya tanda-tanda kelainan pada janin (seperti terlihat melalui gangguan, gerakan janin yang lamban, melalui pemantauan aktivitas janin) sakit perut/dada.
– Bengkak mendadak pada muka, tangan sakit kepala/pusing

E. Tanda-tanda Peringatan Untuk Menghentikan Senam

Jika anda mengalami salah satu tanda-tanda dibawah ini, hentikan senama segera & hubungi perawat medis anda
– Perdarahan vagina
– Sakit perut/dada
– Bengkak mendadak pada tangan, muka & kaki
– Sakit kepala berat & menetap
– Pusing-pusing, sakit kepala ringan
– Akitivitas janin menurun
– Merah pada kaki, terasa sakit
– Rasa linu pada daerah pangkal paha & pinggul
– Rasa perih & panas saat bak
– Iritasi pada liang vagina
– Suhu mulut melebihi 1000F (380C)
– Mual-mual/muntah
– Kontraksi otot rahim
– Jantung berdebar
– Sesak nafas

F. Hal-hal yang perlu di perhatikan :
1. Lakukan seluruh rangkaian senam ini sebatas kemampuan. Rasa nyeri jantung berdenyut terlalu keras & sesak nafas merupakan tanda batas yang tidak boleh di lampui
2. Lakukan senam hamil ini 3x seminggu & sebaiknya ikutlah bergabung dengan ibu hamil lain dan di Rumah Sakit atau Rumah Bersalin yang akan di pakai untuk bersalin
3. Senam relaksasi pernafasan dan penenangan dapat di lakukan setiap saat apabila di butuhkan.
4. Pantaulah gerakan bayi sebelum, selama dan sesudah melakukan senam.
5. Apabila kehamilan sudah > 5 bulan latihan relaksasi di lakukan pada posisi Minggu.

informed consent : Informasi dalam lingkup medis, ternyata sangat penting. Meski tidak semua pasien menghendaki penjelasan yang sejelas-jelasnya, akurat dan lengkap tahap demi tahap perawatan, tapi langkah penjelasan untuk era saat ini justru diharuskan.
Bagi pasien yang menolak penjelasan bisa diminta untuk menandatangani surat penolakan penjelasan perawatan, namun dokter atau dokter gigi tetap memberi kesempatan bila suatu saat pasien berubah pendapat.
Kenapa hal ini begitu penting? Sebab tidak semua kejadian dalam pengobatan berlangsung exactly just the way we want to. Dunia kedokteran tidak 2+2=4. Tidak ada kepastian dan garansi dalam dunia kedokteran karena setiap kasus bagaikan teori permutasi kombinasi. Latar belakang setiap orang berbeda, latar belakang kesehatan berbeda, derajat pengobatan yang diberikan berbeda, reaksi tubuh terhadap sesuatu berbeda.
Jadi manalah mungkin seorang dokter dan dokter gigi yang juga manusia dapat memenuhi dengan sempurna seluruh kriteria kasus yang ada, sedangkan setiap orang sudah pasti having their own limit.
Oleh karena itu selain untuk menjaga kemungkinan ‘terlantar’nya pasien oleh dokter atau dokter gigi yang mempunyai pasien banyak, atau ‘terlantar’nya dokter atau dokter gigi karena harus menghadapi tuntutan hanya karena tidak mengkomunikasikan kemungkinan penyakit maka dibuatlah suatu surat perjanjian hitam di atas putih. Ini yang disebut sebagai inform consent.

Seperti apakah surat inform consent itu?
Intinya inform consent merupakan surat yang menyatakan bahwa pasien diberitahu perihal penyakit yang dideritanya, kerugian maupun keuntungan dari alternatif perawatan dan pengobatan yang akan diberikan, penjelasan mengenai biaya yang harus dibayar dan pilihan-pilihan lain yang memungkinkan untuk mengatasi penyakitnya.
Jadi pada dasarnya semua pasien berhak mendapatkan penjelasan sejelas-jelasnya dari dokter dan dokter gigi yang merawat, langsung dari dokternya atau dari brosur yang dokter dan dokter gigi berikan. Pertanyaan bisa diajukan untuk melengkapi hal-hal yang belum jelas, atau bisa diberi penjelasan tambahan oleh asisten atau perawat dokter dan dokter gigi.
Perawatan apa saja yang butuh inform consent?
Semua perawatan yang membutuhkan tindakan, bisa dimintakan inform consent. Contohnya dalam kedokteran gigi Perawatan Saluran Akar atau Pencabutan Gigi. Dalam perawatan gigi anak, yang menandatangani surat persetujuan adalah orang tua atau wali.
Informed Choice
Informed choice merupakan bentuk persetujuan pilihan tentang: Metode kontrasepsi yang dipilih oleh klien setelah memahami kebutuhan reproduksi yang paling sesuai dengan dirinya / keluarganya; Pilihan tersebut merupakan hasil bimbingan dan pemberian informasi yang obyektif, akurat dan mudah dimengerti oleh klien; Pilihan yang diambil merupakan yang terbaik dari berbagai alternatif yang tersedia.
Informed Consent
Informed consent adalah :
• Bukti tertulis tentang persetujuan terhadap prosedur klinik suatu metode kontrasepsi yang akan dilakukan pada klien.
• Harus ditandatangani oleh klien sendiri atau walinya apabila akibat kondisi tertentu klien tidak dapat melakukan hal tersebut.
• Persetujuan diminta apabila prosedur klinik mengandung risiko terhadap keselamatan klien (baik yang terduga atau tak terduga sebelumnya).
Persetujuan tindakan medik (Informed Consent) berisi tentang kebutuhan reproduksi klien, informed choice, dan prosedur klinik yang akan dilakukan; ada penjelasan tentang risiko dalam melakukan prosedur klinik tersebut; standar prosedur yang akan dilakukan dan upaya untuk menghindarkan risiko; klien menyatakan mengerti tentang semua informasi tersebut diatas dan secara sadar memberikan persetujuannya.
Informed consent juga dilakukan pada pasangannya dengan alasan sebagai berikut :
• Aspek hukum, hanya saksi yang mengetahui bahwa pasangannya secara sadar telah memberikan persetujuan terhadap tindakan medik.
• Suami tidak dapat menggantikan posisi istrinya untuk memberikan persetujuan (atau sebaliknya) kecuali pada kondisi khusus / tertentu.
• Secara kultural (Indonesia) suami selalu menjadi penentu dalam memberikan persetujuan tetapi secara hukum, hal tersebut hanya merupakan persetujuan terhadap konsekuensi biaya dan pemahaman risiko (yang telah dijelaskan sebelumnya) yang mungkin timbul dari prosedur klinik yang akan dilakukan.

Read more: http://www.lusa.web.id/kie-dalam-pelayanan-kb/#ixzz0aErIloWd
Under Creative Commons License: Attribution Non-Commercial

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!